Tag
This gallery contains 14 photos.
Tulisan ini saya buat pada tanggal 11 Oktober 2011, hari Selasa, sebagai usaha terus menerus demi komitmen saya utk belajar …
29 Sabtu Okt 2011
Posted in bunga, renungan, sansevieria
Tag
This gallery contains 14 photos.
Tulisan ini saya buat pada tanggal 11 Oktober 2011, hari Selasa, sebagai usaha terus menerus demi komitmen saya utk belajar …
22 Sabtu Jan 2011
Posted in renungan, refleksi, Uncategorized
This gallery contains 3 photos.
Baru kelar Acara SoE Blessing dan orang-orang lagi siap-siap mau pulang. Sudah hampir jam 9 malam dan diluar kabut sudah …
20 Sabtu Feb 2010
Posted in renungan, refleksi
Karena kehujanan beberapa waktu lalu ditambah kondisi fisik yang kurang fit karena lelah diperparah dengan cuaca yang tak menentu hujan lebat dan panas menyengat sekaligus, tubuh saya lalu kalah maka paginya bangun dengan keadaan yang sangat lemah…..tetapi saya tetap berusaha untuk beranjak dari tempat tidur namun badan terasa begitu berat karena seluruh persendian seolah seperti akan lepas. Kedua kaki begitu lemah untuk menopang tubuh lalu demam tinggi maka kloplah derita saya hari itu dibulan pertama tahun 2010.
Welcome 2010 !
Saya tak ingin sakit sebenarnya disaat ini. Benar-benar tak ingin. Dengan sekuat tenaga saya berusaha bangun dengan tubuh tegak namun beberapa detik kemudian tubuh ini telah terhempas kembali ditempat tidur. Nyeri dibagian pinggang tiba-tiba muncul disusul dengan rasa sakit yang luar biasa. Sungguh sakitnya tak terhingga. Keringat dingin seperti mengalir keluar dari tubuh saya, dan karena tak mampu menahan sakit yang begitu rupa, akhirnya seluruh isi perut saya keluar semua sampai akhirnya benar-benar tak ada lagi yang dapat dikeluarkan. Akhirnya dengan tak mampu lagi menahan rasa sakit, walau telah berupaya mengalihkan perhatian dari rasa sakit itu, saya tak mampu lagi untuk tidak menangis. Sambil menangis karena kesakitan dan menangisi kelemahan tubuh ini sayapun memohon pada Tuhan…….jangan biarkan saya sakit Tuhan…karena masih ada yang harus saya lakukan segera…tolong saya Bapa, setidaknya untuk saat-saat ini, walau saya tahu sakit ini adalah hasil kecerobohan saya sendiri, lagipula saya begitu paranoit kalau harus ke dokter….tapi diatas semua ini …………saya tahu Tuhan lebih mengenali saya, dan saya mengharapkan Tuhan lebih dari apapun-disaat-saat seperti begini.
Walau karenanya saya dicap aneh oleh sang suami sambil segera menyeret saya ke dokter, saat itu juga. Pengalaman pahit saya mengawali tahun 2010,tahun Macan bagi orang Tianghoa, tahun Ayin bagi orang Yahudi, tahun penuh rahmat dan anugerah, bagi saya……..ha..ha..ha….
Sahabat, sakit, atau kesakitan adalah suatu kata yang sangat mengerikan. Menjadi momok yang menakutkan. Dan bagi saya suatu keadaan yang menyedihkan, karena bisa memenjarakan saya dalam rasa mengasihani diri yang berlarut. Karena itu pikir saya, semoga ini tak akan lama, setidaknya untuk saat ini. Saat dimana keadaan dan kondisi mengharuskan saya untuk tetap bertahan, menjadi kuat dan tak harus menyerah dengan keadaan diri. Karena jika berlarut, takut saya, yang sakit bukan hanya fisik saya, tapi bisa-bisa menjalar ke pikiran. Soalnya saya bisa saja tergoda untuk mengasihani diri secara berlebihan-sesuatu yang tidak sehat yang sering saya lakukan, dulu.
Sahabat, hari-hari kedepan, sama seperti orang lainnya di negeri ini, kita mungkin akan diperhadapkan pada kondisi yang tak menentu, tak terprediksi. Seorang sahabat yang pandai menulis diblognya dengan begitu baik tentang ketidakpastian dan hari plus hati yang tak terselami yang kita hadapi bersama di tahun 2010 ini – (atau mungkin juga untuk tahun-tahun selanjutnya, pikir saya). Saya setuju dengannya, kita tak tahu apa yang bakal terjadi didepan nanti sahabat, kita hanya harus siap dan lengkapi diri untuk dapat bertahan atau mungkin untuk tetap dapat survive bahkan keluar sebagai pemenang dari kehidupan yang tak pasti dan tak terselami ini. I Hope …… and still grow in hope…!
Karena itu, kalau boleh, saya namakan tahun ini tahun penuh rahmat dan anugerah saja ya….! Kenapa harus saya namakan seperti itu ? karena benar, apa yang tersaji ditahun ini tak bisa kita selami, tak dapat diketahui secara pasti. Karena tak pasti dan tak terselami inilah, maka tentu orang berusaha mencari dan menemukan formula yang pas untuk menghadapinya, dengan dua kemungkinan. Mungkin berhasil dan mungkin pula tidak. Lalu pastinya kita akan menemui banyak persoalan, masalah dan tantangan baru yang harus pula dihadapi. Kalau saya, yang pasti tak bisa sendiri menghadapi ini , saya perlu sesuatu yang melebihi kemampuan, kekuatan dan kesanggupan alamiah saya yang terbatas. Saya menyadari sepenuhnya bahwa saya perlu banyak anugerah dan rahmat Tuhan semesta alam, agar bisa melalui dan menyelesaikannya dengan baik dan benar.
Pikiran saya didasari atas ini :
Seingat saya anugerah adalah kata yang memiliki arti yang sama dengan kata karunia atau kasih karunia. Yang diterjemahkan sebagai pemberian, yang diberikan Allah kepada manusia, secara dorea ( cuma-cuma, seperti hadiah ) sebagai pemberian Ilahi. Yakobus mengingatkan kita sahabat bahwa ”setiap pemberian yang baik (dosis) dan setiap anugerah yang sempurna (dorema) datangnya dari atas.” Karena itu disaat saya tak mampu, saya memohon anugerah dan kasih karunia Tuhan, yaitu suatu kekuatan dan kemampuan Ilahi yang diberikan kepada saya secara cuma-cuma layaknya seperti sebuah hadiah, walau sebenarnya saya tak layak menerimanya. ( disebut bodoh jika kita menolak diberi suatu hadiah yang sebenarnya sangat kita butuhkan bukan ? ). Maka dengan anugerah inilah saya masuki tahun ini dan akan melaluinya dengan kekuatan dan kemampuan Ilahi yang telah diberikanNya bagi saya. Ya, begitulah sahabat….menurut percaya saya.
Hal anugerah dan kasih karunia yang disebut diatas itu memang semata-mata hak absolut Sang Pencipta yang diberikan pada orang yang memang mau menerimanya. Namun, tak semua kita, tahu dan mau menerima. Buktinya ada saja manusia, yang telah berusaha mati-matian dengan usahanya sendiri, untuk hal-hal yang memang berada diluar kemampuan alamiahnya, tetapi gagal. Dan karena gagal beroleh apa yang diinginkannya, mereka melakukan hal-hal yang keliru, dengan cara, menghancurkan orang lain bahkan akhirnya menghancurkan dirinya sendiri, untuk sesuatu hal yang sebenarnya bukanlah kapasitas mereka. Mereka mampu kalau ada kemampuan dan kekuatan lebih yang diberikan oleh suatu kuasa atau power yang berada jauh diatas kekuatan manusia yang terbatas, yaitu kuasa Ilahi. Nah, melihat masa depan yang tak terselami ini juga merupakan sesuatu ”pekerjaan” yang tak mampu saya lakukan, ini berada diatas kemampuan alamiah saya sebagai manusia yang terbatas, dan hanya Sang Pembuat waktu dan masa itu yang benar-benar tahu, dan yang paling tahu. Karena Dialah Sang Mahatahu.
Sahabat, anugerah membuat kita dapat melihat hal-hal yang berada diluar kemampuan alamiah kita. Karena anugerah maka kita boleh bermimpi, boleh berharap dan percaya bahwa apapun yang kita harapkan dan inginkan asalkan sesuai kehendakNya, akan terjadi didalam hidup kita. Sekali lagi, asal kita percaya……dan…..s..e..s..u..a..i… kehendakNya ! Karena percayalah maka kita akan terus mempunyai antuasiasme yang tinggi, keyakinan diri yang sehat, untuk mengharapkan sesuatu yang baik terjadi didalam hidup kita. Yang saya maksudkan disini tidak berarti semata-mata hanya berhubungan dengan hal-hal fisik, tetapi tekanan utamanya adalah pada hal-hal batiniah, sesuatu yang dari dalam diri kita. Anugerah membuat kita tetap bisa melihat matahari dibalik awan pekat,pastinya, dan melihat jalan keluar dibalik masalah – masalah hidup, membuat kita dapat bertahan dimasa-masa sukar dan tetap sadar diri ketika kita mencapai sukses. Dan karena anugerah pula, akhirnya saya dapat sembuh dari sakit yang sangat menyiksa itu, dan akhirnya berubah menjadi sedikit lebih “langsing” ha..ha..ha…Praise God …. and terimaksih….
Mengenai hari-hari kedepan yang penuh tantangan, persoalan dan hal-hal yang tak terselami atau terprediksi, maka institusi kami ditahun 2010 ini menggunakan tema besar yaitu ” The year of expansion” dan tema bulanan untuk bulan Pebruari ini adalah GROW ( bertumbuh )
Dasarnya Kitab Yesaya 54 : 2-3…..yang mengatakan :
” Lapangkanlah tempat kemahmu dan bentangkanlah tenda kediamanmu. Janganlah menghemat, panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh patok-patokmu. Sebab engkau akan mengembang kekanan dan kekiri, keturunanmu kan memperoleh bangsa-bangsa…”
Latar belakang sejarah penulisan ayat ini adalah merupakan sebagian dari nubuatan Nabi Yesaya akan janji pemulihan dan penebusan Allah bagi umat Israel pada masa pembuangan mereka di Babel. Yesaya sendiri adalah anak Amos orang Israel. Ia seorang yang hidup di Yerusalem pada masa pemerintahan empat raja Yehuda sekaligus yaitu Raja Uzia, RajaYotam, Raja Ahas, dan Raja Hizkia. Jadi pelayanan Nabi Yesaya meliputi lebih dari setengah abad sejarah Yehuda. Yesaya mati syahid menurut tradisi Yahudi dengan cara digergaji. Karena ia menyampaikan nubuatan, nasehat, teguran dari Allah bagi bangsa Yahudi agar mereka bertobat dan berbalik kepada Allah, tapi ia ditolak dan akhirnya sesuai tradisi yang berlaku, ia dibunuh oleh Raja Manasye putra Raja Hizkia yang jahat - sebelum akhirnya Yehuda dibuang ke Babel.
Yesaya berasal dari keluarga kalangan atas di Yerusalem, dia orang berpendidikan, memiliki bakat sebagai penggubah syair dan berkarunia, mengenal keluarga raja dan memberikan nasehat secara nubuat kepada para raja mengenai politik luar negeri Yehuda. Saat itu Yesaya dipandang sebagai nabi yang paling memahami kesusastraan dan paling berpengaruh dari semua nabi yang menulis kitab. Yesaya hidup sezaman dengan Nabi Hosea dan Nabi Mikha. Ia bernubuat selama perluasan kerajaan Asyur yang mengancam, keruntuhan terakhir kerajaan utara (Israel) serta kemerosotan rohani dan moral di kerajaan selatan ( Yehuda ). Yesaya dipakai oleh Allah untuk menyampaikan teguran dan nasehat berupa nubuatan, pada saat bangsa Israel telah terpecah dalam dua kerajaan ( yaitu kerajaan utara dan selatan )
Yesaya memperingati Raja Yehuda, Ahaz agar tidak mengharapkan bantuan dari Asyur melawan Israel dan Aram. Ia mengingatkan Raja Hizkia, setelah kejatuhan Israel tahun 722 sebelum masehi, agar jangan mengadakan persekutuan dengan bangsa asing menentang Asyur. Ia menasehati kedua raja itu untuk percaya kepada Tuhan saja sebagai Pelindung mereka dan Yesaya mempunyai pengaruhnya yang terbesar adalah pada masa pemerintahan Raja Hiskia. Itulah sedikit latar belakang sejarah Nabi Yesaya dan keadaan bangsanya pada saat itu.
Hubungannya dengan thema yang dipakai institusi kami tahun ini adalah sebagai upaya agar kita dapat selalu mengingat khususnya tahun ini bahwa janji penyelamatan dan pemulihan ini masih tetap ada dan diberikan bagi semua orang, khususnya bagi kita umatNya. Kita dapat mempelajarinya dari kehidupan Nabi Yesaya dan umat Israel dimasanya yang tetap masih relevan sampai masa kita saat ini.
Fakta bahwa Allah melalui nabi Yesaya tetap memberikan janji pemulihan dan penebusan bagi Israel walau nyatanya mereka telah menentang dan menolak Dia, sehingga mereka dibuang ke Babel. Ini juga menunjuk kepada kita, kaum keturunan Israel secara rohani yang hidup pada jaman ini, yang juga telah melakukan tradisi leluhur kita yaitu memberontak dan menentang Allah melalui perilaku dan tindakan kita setiap hari, namun janji pemulihan dan keselamatan melalui nubuatan inipun masih berlaku dan kini diberikan bagi kita, bukan lagi lewat Nabi Yesaya tapi lewat AnakNya yang tunggal yaitu Yesus Kristus , supaya barangsiapa yang percaya dan menerima Dia-diselamatkan. Itulah dasarnya thema ini dipakai supaya kita tetap ingat bahwa,
(Segala perkara dapat kita tanggung didalam Dia yang memberi kekuatan kepada kita, Fil.4:13…
Terjemahan dari Holy Bible contemporary English Version adalah Christ gives me the strength to face anything..…ya, to face anything, friend ! )
Saya suka dengan tema itu karena bagi saya pribadi, didalamnya terkandung nilai iman, kepercayaan, harapan, impian, dan usaha.
Tapi masalahnya selalu, adalah, semuanya itu tak akan mungkin terjadi dan tergenapi bila hanya berhenti sampai pada slogan saja, tanpa adanya suatu tindakan iman, to do it. Kita tak bisa hanya duduk-duduk saja berdoa dan berharap supaya hal itu akan terjadi. Jelas bahwa berharap saja tidaklah cukup.
Jika kita ingin belajar mengendarai sepeda, belajar berenang ataupun belajar memasak misalnya, kita tidak hanya duduk-duduk dikursi kita yang empuk dan hanya berharap, kan ? harapan bisa dibilang hanya modal awalnya saja. Selanjutnya kita harus temukan sebuah sepeda, lalu duduk diatas pedalnya, berusaha menyeimbangkan tubuh, mengayuh berulang-ulang dan jatuh beberapa kali, mungkin terluka dibeberapa bagian tubuh, sampai akhirnya kita benar-benar bisa mengendarainya.
Belajar berenang ya… tentunya dengan terjun kedalam air, meskipun tak yakin kalau air itu dapat menahan tubuh kita, menggerakkan tangan dan kaki kita berulang-ulang, mendapatkan minuman gratis air kolam berkali-kali, nyaris tenggelam berkali-kali, sampai akhirnya kita dapat benar-benar berenang dengan cara yang sebenarnya.
Untuk dapat belajar memasak, kita akan mencari sebuah buku resep atau seseorang yang pandai memasak dan mulai mencoba belajar dari dirinya, mungkin melakukan beberapa kesalahan, menghasilkan beberapa masakan yang rasanya”aneh” sampai akhirnya dapat memasak sepandai chef resto ternama. Selalu ada step by step yang perlu dilalui agar sebuah mimpi dan harapan tercapai. Didalam proses inilah iman bekerja ( to be grow ) dan mendorong kita untuk mencapai ekspansi.
Saya selalu memahami begini : jadi mulanya anugerah itu diberikan, lalu kita terima dengan iman, kemudian lalui proses agar iman kita bekerja dan akhirnya to be grow untuk bisa melakukan ekspansion. Yakobus 2:17 berkata : iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Jadi walau punya iman tapi tidak melakukannya maka = iman yang mati. Jadi walau punya iman tapi mati bukankah sama dengan tidak punya iman ?
Saya tak berniat menggurui sahabat dan takkan dapat, saya tak ingin menjadi seolah-olah adalah orang yang paling tahu hal ini, karena sebenarnya semakin saya melihat kepada Allah dan bercermin pada kebenaranNya yang belum banyak saya tahu ini, semakin saya melihat saya tak tahu apa-apa. Karena itu saya mau terus bertumbuh, bertumbuh kedalam, untuk berakar, menyerap sebanyak-banyaknya nutrisi yang mungkin dapat diserap, menjadi mampu untuk menggeser tanah dan bebatuan untuk tumbuh keatas, untuk membentuk batang yang semakin hari semakin kuat, lalu mengeluarkan ranting, dahan dan daun dan akhirnya menghasilkan buah yang baik – Pada masanya. Walau ini disebut seleksi alam, tapi khusus untuk hidup saya pribadi, dalam hal to be grow, saya mengandalkan arti kata Anugerah. Kalau tak demikian, saya bisa apa ?
Sahabat, saya suka lagu dibawah ini karena mewakili kehidupan saya yang sesungguhnya, syairnya demikian :
Besar karyaMu, dalam hidupku
Tak pernah cukup kata, memujiMu
DipelukanMu, Kau menjagaku
Kutak menjadi lemah, karenaMu
Kaulah Tuhan El-shaddai
Tuhan yang berkuasa
Kau sanggup mengadakan
Semua yang kuperlukan
Kaulah Tuhan El-shaddai
Kuserukan Kau ajaib
Kau tempat kuberharap
Yang selalu setia
M e n y e r t a i….ku
Besar kuasaMu
Yang menuntunku
Tak pernah cukup kata memujiMu
PenghiburanMu, kekuatanMu
Ku tak menjadi lemah karenaMu
Kaulah Tuhan El-shaddai
Tuhan yang berkuasa
Kau sanggup mengadakan
Semua yang kuperlukan
Kaulah Tuhan El-shaddai
Kuserukan Kau ajaib
Kau tempat kuberharap
Yang selalu setia
M e n y e r t a i….ku
Sahabat, bulan kedua ditahun 2010 sebentar lagi usai. Dan tanpa terasa kita telah hampir masuk pada pertengahan tahun. Lalu akhirnyapun tahun ini, yang disebut tahun baru akhirnya berlalu juga dan menjadi tahun lama. Kita akan dibawa untuk memasuki tahun lain lagi yang lebih baru - 2011 - 2012 - 2013….dst..dst…
Semuanya akan terus berganti dan semuanya terus berubah.
Wajah, penampilan, usia, bobot tubuh, semuanya. Model dan gaya terus berganti-atau sebenarnya hanya berulang atau berputar.
Kisah dan cerita kita saat ini akan jadi sejarah masa lalu, nanti.
Rindu dan benci, marah dan maaf, salah dan benar. Persahabatan dan tidak lagi bersahabat. Cinta dan tak lagi cinta, terluka dan tak lagi luka, hanya datang dan pergi.
Musim berganti dan berlalu. Semua bisa menjadi tak sama lagi.
Mungkin kita terima saja sebagai bagian dari hidup ? lalu kita bisa apa kalau bukan hadapi dan jalani ?
Tapi walau begitu, ada satu perkara yang tak akan pernah dan tak akan mungkin berubah, yakni Kasih dan Setia Tuhan yang telah kita alami disepanjang tahun-tahun umur hidup kita.
Dan sahabat,
Mungkin, kita dapat menghadapi semuanya, dengan sesuatu yang tak mungkin dan tak pernah berubah itu,
untuk terus bertumbuh.
Mungkin sambil mengingat syair lagu ini :
Besar karyaMu, dalam hidupku
Tak pernah cukup kata, untuk memujiMu
DipelukanMu, Kau menjagaku
Kutak menjadi lemah, karenaMu ……………………………….
Kaulah Tuhan El-shaddai
Kuserukan Kau ajaib
Kau tempat kuberharap
Yang selalu setia
M e n y e r t a i….ku.
26 Sabtu Des 2009
Posted in Kelahiran Kristus
Sahabat….. kelahiran Yesus menjadi sangat penting bagi kita ketika kita tahu bahwa sesungguhnya kita adalah manusia yang terlahir dalam dosa dan tak akan mampu untuk mengatasi dan melepaskan diri sendiri dari kuasa dosa. Karena itu kita perlu Yesus, Sang Mesias..Juruslamat dunia…Anak Tunggal Bapa, yang karena KASIH, telah diberikan bagi sahabat dan saya. Bertolak dari dasar inilah kita menerima, merayakan dan memaknai Natal ini dengan sukacita dengan suatu pemahaman yang benar bahwa kelahirannya membawa damai supaya dengan itu kitapun mau melahirkan karakter dan sifat Kristus, kasih, sukacita, damai, kesabaran, kebaikan….dan semua buah-buah Roh lainnya…supaya kitapun boleh menjadi pembawa damai, jadi terang dan garam, dimanapun kita ada dan ditempatkan, dalam keadaan apapun, sesuai dengan kapasitas dan talenta kita masing-masing. Semoga Allah sumber damai sejahtera itu memberikan kepada sahabat dan saya kekuatan dan kemampuan untuk melakukannya.
Merry X’mas dan Happy New Year sahabat….Tuhan yang Maha Kasih menyertai dan memberkati kita. Syalom.
22 Selasa Des 2009
Posted in Selamat Hari Ibu
Wanita Cantik melukis kekuatan lewat masalahnya…tersenyum saat tertekan, tertawa disaat hati sedang menangis, memberkati disaat terhina, mempesona karena mengampuni. Wanita Cantik mengasihi tanpa pamrih dan bertambah kuat didalam doa dan pengharapan.
Ucapan ini dikirim khusus untuk setiap wanita cantik kepunyaan Yesus, Happy Mother’s Day…..GBU all.
29 Minggu Nov 2009
Laaammmmaaaaaaa…..tak mem-posting sesuatu disini membuat resah. Namun beberapa bulan belakangan ini saya benar-benar sibuk karena beberapa tugas dan tanggungjawab hidup yang memerlukan perhatian lebih. Lalu ternyata (akhirnya ) merasa bahwa tidak “menulis” membuat saya seperti “kehilangan” sesuatu So, hari ini saya berusaha menulis lagi disini, karena saya perlu melakukannya.
Beberapa waktu belakangan ini saya sering sekali meninggalkan rumah karena tugas dan tanggungjawab pekerjaan yang lebih besar yang telah diberikan oleh Tuhan melalui institusi kami untuk dikerjakan. Hal mana membutuhkan energy dan tanggungjawab lebihpula-tentunya. Akhirnya tubuh dan pikiran saya terkadang menjadi “lelah” jadi sulit rasanya untuk benar-benar bisa menulis sesuatu diblog saya ini, padahal saya pingin sekali. Karena bagi saya blog rancangan saya ini layaknya juga seperti sebuah rumah bagi saya. Terkadang saya suka berada berlama-lama disini sekedar hanya untuk menata dalam tanda kutip “rumah” saya ini. Sehingga ketika harus melakukan tanggungjawab lain yang menyita banyak waktu dan konsentrasi, lalu meninggalkannya begitu saja, membuat saya merasa rindu rumah, saya merasa homesick.
Sahabat, bagi sebagian besar kaum perempuan( kalo tak salah ya… ), berada dirumah dikelilingi keluarga dan sahabat-sahabat-merupakan kebutuhan “primerrrrrrrrr”…….ka-reee-nnnnnaaaa…….s a- n g a t ….. me-nye-nang-kan……., sebab pada dasarnya bagi sebagian kita, rumah adalah lambang keamanan, perlindungan, dan ketentraman. Yang menyebut dirinya wanita pasti….…membutuhkan ketiga hal itu,..benar kan ???
Saya tergolong dalam model yang seperti itu, sangat perlu dan bergantung pada ketiga hal diatas, sehingga jika ada suatu keadaan atau kondisi atau situasi tertentu yang ingin memisahkan saya dari rasa dilindungi, keamanan dan ketentraman, tindakan utama saya adalah berusaha mati-matian mempertahankannya. Tapi itu dulu…….
Kini beberapa hal mendasar dan prinsip telah menggeser kesenangan dan kenyamanan sementara saya itu. Sebenarnya yang ingin saya tuliskan disini bukan tentang hal saya itu. Kita lupakan saja dulu. Yang saya maksudkan disini sahabat adalah bahwa dari “persoalan-persoalan” diatas, saya belajar satu hal kini bahwa walau saya selalu rindu rumah dengan ketenangan dan ketentramannya namun semuanya menjadi kurang penting manakala saya bandingkan dengan upaya yang saya lakukan dalam hidup ini- disebabkan karena saya lebih mementingkan rumah kehidupan kekal saya nanti. Karena itu saya belajar kini bahwa untuk bisa menerima sesuatu yang lebih itu, kita terkadang harus rela melepaskan sesuatu yang bersifat sementara yang mungkin selama ini telah menjadi kesenangan,atau “kebutuhan” atau kesukaan kita, yang mungkin kini telah menjadi tempat kita bergantung atau bersandar dalam tanda kutip, yang membuat kita lebih mengutamakan hal-hal jasmaniah dan melupakan dan mengesampingkan hal-hal batiniah-yang bersifat rohaniah-yang merupakan hal kekekalan. Yang bersifat jasmaniah ini telah menahan kita meningkat ke next level atau maju ke tingkatan yang lebih lagi. Jadi, intinya supaya kita bisa bertumbuh menjadi lebih baik…lebih kuat…lebih memahami….lebih “hidup”….lebih dewasa…lebih,lebih…& lebih….pokoknya lebih dari sebelumnya maka untuk hal prinsip ini-kita perlu satu kata kunci. berkorban. ( Mungkin hal yang saya maksudkan ini ada hubungannya dengan perayaan Idul Adha yang dirayakan tgl.27 lalu oleh teman-teman muslim kita ya ?)
Ini menjadi penting, karena kita manusia yang hidup, dan karena kita hidup, maka kita harus dan akan terus bertumbuh kearah yang lebih baik. Untuk bertumbuh kita memerlukan apa yang disebut korban/perlu berkorban. Waktu, tenaga,perasaan,keinginan,kesenangan, hobby, dan lain sebagainya. Memang korban awalnya menyakitkan, tapi setelah itu kita pasti akan mensyukuri hasilnya !
Sahabat, menurut kamus bahasa Indonesia kata korban berarti pemberian untuk menyatakan bakti, kesetiaan, Dikalangan sahabat muslim dikenal istilah kurban yang artinya : jangankan harta, jiwa sekalipun kami berikan sbg kurban. Korban juga punya arti, orang, binatang, dsb. yg menjadi menderita (mati dsb.) akibat suatu kejadian, perbuatan jahat.
Sedangkan kata berkorban hampir sama artinya yaitu perbuatan untuk menyatakan bakti, kesetiaan, menjadi korban, menderita (rugi dsb) memberikan sesuatu sbg korban = rela – demi kejayaan ( bangsa,Negara )
Korban dalam kosa kata bahasa Inggris = Sacrifice = religious offering, mouslim= the offering made at rites celebrating idul adha, victims
Kamus Alkitab menjelaskan tentang korban dalam arti ini :
Korban adalah Persembahan kepada Allah untuk memuliakan Dia (korban sajian), untuk memelihara persekutuan dengan Dia (korban bakaran , korban keselamatan dan korban pujian), untuk menebus dosa dan kesalahan (korban penghapus dosa, korban penebus salah). Yesus Kristus mengorbankan diri-Nya sekali untuk selamanya sebagai korban penebus dosa. Jemaat Kristen dianjurkan untuk berkorban atas dasar perbuatan Yesus itu (Rm. 12:1), khususnya mempersembahkan korban pujian (Ibr. 13:15).
Intinya saya lihat bahwa didalam semua agama mengajarkan nilai ini. Karena itu setiap kita yang menyebut dirinya ciptaan, layak berkorban untuk Penciptanya dengan jalan mau berkorban bagi orang lain/sesama. Sebab tanpa korban semua kita berada pada kondisi hidup yang sia-sia dan percuma. Tidak berkualitas. Bahkan karena ketidak mauan untuk berkorban membuat kita menjadi orang yang selfis yang mementingkan diri. Jika semua kita hanya mementingkan diri sendiri atau menempatkan kepentingan diri sendiri lebih tinggi dari kepentingan lainnya, maka apakah berlebihan jika saya berpikir bahwa mungkin suatu saat nanti lingkungan dimana kita hidup ini akan berubah menjadi rimba ?
Jelas ada hubungannya dengan hal diatas, sahabat, hari-hari ini dibangsa saya ini, saya melihat dan memperhatikan bahwa ternyata untuk suatu tujuan yang sementara, orang cenderung melakukan apa saja, tak perduli hal itu halal atau haram, benar atau salah. Bahkan untuk dapat hidup mereka rela mengambil hidup orang lain. Untuk membenarkan diri mereka tega menyalahkan orang lain, untuk menyelamatkan diri, instansi, korps, mereka berani menghancurkan, instansi, korps, institusi lain. Sesuatu yang secara moral dan etika ditentang semua orang dibangsa ini tapi kenyataannya dilakukan oleh sebagian besar orang dibangsa ini. Jika begini, saya bertanya kini, apa makna korban ? maukah kita berkorban ? dapatkan kita berkorban ? Bila kita mau, saran saya, mulailah dari diri sendiri.
Sahabat, saya mau berkorban. Hanya karena satu alasan, bahwa saya yang hina dan berdosa ini telah diselamatkan dan dipilihNya untuk menjadi bagian dari pekerjaanNya yang besar dibumi ini. Seperti dalam makna ilustrasi dibawah ini :
Seorang Tuan sedang mencari sebuah bejana. Ada beberapa bejana tersedia, manakah yang akan dipilih?
“Pilihlah aku,” teriak bejana emas,”Aku mengkilap dan bercahaya. Aku sangat berharga dan aku melakukan segala sesuatu dengan benar. Keindahanku akan mengalahkan yang lain. Dan untuk orang seperti Tuanku, emas adalah yang terbaik kan ?!”
Tuan itu hanya lewat saja tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Kemudian ia melihat suatu bejana perak, ramping dan tinggi.
“Aku akan melayani engkau Tuanku, aku akan menuangkan anggurmu dan aku akan berada di mejamu di setiap acara jamuan makan. Garisku sangat indah, ukiranku sangat nyata. Dan perakku akan selalu memujimu.”
Tuan itu terus berjalan dan menemukan sebuah bejana tembaga.
Bejana ini besar dan dipoles seperti kaca.
“Sini! Sini!” teriak bejana itu, “aku tahu aku akan terpilih. Taruhlah aku dimejamu, maka semua orang akan memandangku.”
“Lihatlah aku!”, panggil bejana kristal yang sangat jernih. Aku sangat transparan, menunjukkan betapa baiknya aku. Meskipun aku mudah pecah, aku akan melayani engkau dengan kebanggaanku. Dan aku yakin, aku akan bahagia dan senang tinggal dalam rumahmu.”
Tuan itu kemudian menemukan bejana kayu. Dipoles dan terukir indah, berdiri dengan teguh.
“Engkau dapat memakai aku, tuanku, kata bejana kayu. Tapi aku lebih senang bila engkau memakaiku untuk buah-buahan, bukan untuk roti.”
Kemudian tuan itu melihat ke bawah dan melihat bejana tanah liat. Kosong dan hancur, terbaring begitu saja. Tidak ada harapan untuk terpilih sebagai bejana Tuan itu.
Ah! Inilah bejana yang aku perlukan. Akan Kuperbaiki dan Kupakai, akan Kubuat sebagai milikku seutuhnya. Aku tidak membutuhkan bejana yang mempunyai kebanggaan. Tidak juga bejana yang terlalu tinggi untuk ditaruh di rak. Tidak juga yang besar dan dalam. Tidak juga yang memamerkan isinya dengan bangga. Tidak juga yang merasa paling baik. Tetapi yang kucari adalah bejana tanah liat yang kosong dan hancur,yang takdipandang baik, itulah yang akan Kubentuk kembali menjadi bejana baru yang utuh, kuat dan indah.
Kemudian Ia mengangkat bejana tanah liat itu. Ia memperbaiki membersihkannya dan memenuhinya. Ia berbicara dengan lembut kepada bejana itu, “Ada tugas yang perlu engkau kerjakan, jadilah berkat buat orang lain, seperti apa yang telah Kuperbuat bagimu.”
Demikianlah halnya dengan Tuhan. Ia mencari sahabat dan saya yang mungkin “kelihatan” buruk dan tidak baik, tidak indah , kecil dan tidak terpandang bagi manusia, namun Ia mau memilih,membentuk,memenuhi dan memakai kita untuk memberkati dan menjadi berkat bagi orang lain. Untuk itu Ia mau sahabat dan saya menjadi orang yang mau dibentuk, sekalipun harus melalui hal-hal menyakitkan.
Oh, ya..sahabat….., saya ingat kata seorang mentor, dia bilang….hidup ini tak lama, mengapa tidak menambah kualitas ?
Sahabatku, melalui hal-hal yang saya lewati dalam jam-jam kehidupan ini, saya tahu satu hal, bahwa didalam kwalitas, selalu mengandung nilai waktu dan proses. Juga korban.
Jadi, walau baru ini yang bisa ditulis disini saat ini, harap saya semoga ini dapat bermanfaat.
God Bless You.
05 Senin Okt 2009
Posted in Refleksi
Sahabat, tidak banyak yang bisa saya tulis diblog saat ini, tapi saya punya satu kisah yang ingin saya bagikan buat sahabat. Dibaca ya….
Sahabatku……, terkadang jika kita membandingkan diri kita dengan orang lain,dalam menghadapi sesuatu, dalam suatu situasi tertentu- kita merasa “kurang”.
Kurang berguna,…….. kurang beruntung,….. kurang baik,……… kurang berhasil, kurang….,kurang…. dan kurang”. Saya pernah merasakan hal seperti itu. Apakah sahabat pernah merasakannya juga ?
Pada saat-saat tertentu dalam sesuatu hal tertentu, terkadang saya merasa seakan-akan saya berfungsi tidak maksimal, merasa tak berarti bahkan tak berguna. Dan itu melemahkan hati saya.
Tapi sahabat coba renungkan cerita dibawah ini dan mari kita sama-sama ingat bahwa setiap kita berharga dan Tuhan sanggup memakai ketidak sempurnaan kita menjadi tepat pada fungsinya dan berguna untuk menolong diri kita sendiri dan orang lain.
Sebab Sang Pencipta kita kan bilang : ” Karena kita ini buatan tanganNya, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. jadi Ia mau supaya kita hidup didalamnya “
Seorang ibu yang sudah tua memiliki dua buah tempayan air, yang dipikul di pundaknya dengan menggunakan sebatang bambu.
Salah satu dari tempayan itu retak, sedangkan yang satunya tak bercela dan selalu memuat air hingga penuh.
Setibanya di rumah setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air di tempayan yang retak tinggal separuh.
Selama dua tahun hal ini berlangsung setiap hari, dimana ibu itu membawa pulang air hanya satu setengah tempayan.
Tentunya si tempayan yang utuh sangat bangga akan pencapaiannya.
Namun tempayan yang retak merasa malu akan kekurangannya dan sedih sebab hanya bisa memenuhi setengah dari kewajibannya.
Setelah dua tahun yang dianggapnya sebagai kegagalan-dilaluinya, akhirnya dia berbicara kepada ibu tua itu di dekat sungai.
“Aku malu, sebab air bocor dan tumpah melalui bagian tubuhku yang retak di sepanjang jalan menuju ke rumahmu.” Aku begitu menyesal dan merasa sedih serta tak berguna. Apa yang dapat kulakukan dengan keadaanku yang tak sempurna ini ?
Ibu itu tersenyum dan berkata, “tidakkah kau lihat bunga beraneka warna di jalur yang kau lalui, namun tidak ada di jalur yang satunya ?
Aku sudah tahu kekuranganmu, jadi aku menabur benih bunga di jalurmu dan setiap hari dalam perjalanan pulang kau menyirami benih-benih itu.
Selama dua tahun aku bisa memetik bunga-bunga cantik untuk menghias mejaku dan membagikannya kepada tetanggaku yang memerlukannya.
Kalau kau tidak seperti itu, maka rumah ini dan rumah tetanggaku tidak seasri seperti ini sebab tidak ada bunga.
Sahabat, tanpa kita sadari, keretakan dan kekurangan itulah yang menjadikan hidup kita bersama menyenang-kan dan memuaskan. Karena itu kita harus menerima setiap orang apa adanya dan mencari yang terbaik dalam diri mereka.
Rekan-rekan sesama tempayan yang retak, semoga hari-hari kalian menyenangkan dan jangan lupa menikmati dan mencium harumnya bunga-bunga, di jalur kalian.”
Salam.
15 Selasa Sep 2009
Saya adalah seorang ibu dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah sosiologi. Sang dosen sangat inpiratif dan teropsesi dengan kualitas yang diharapkan agar setiap orang memilikinya. Tugas akhir yang diberikan diberi nama “tersenyum”. Seluruh siswa diminta untuk pergi keluar dan tersenyum kepada tiga orang dan mendokumentasikan reaksi mereka.
Saya adalah seorang yang mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang dan mengatakan “hello” jadi saya berpikir tugas ini sangatlah mudah. Segera setelah kami menerima tugas tersebut saya mulai mencari-cari ide seperti apakah nantinya agar tugas ini selesai. Ceritakan saja hal-hal yang lucu, bertemu dengan ibu-ibu yang lainnya didepan rumah ataupun sekedar menyapa penjaga kasir disupermarket adalah cara termudah untuk menyelesaikan tugas ini. Namun saya menginginkan hal lain yang tergolong unik. “hm…mm..sulit sekali menimbulkan ide kreatif tersebut,” pikirku dalam hati sambil mempersiapkan makan malam hari itu.
Pada minggu berikutnya disuatu pagi dibulan Desember yang sangat dingin dan lembab, saya sekeluarga pergi ke sebuah tempak makan fast food untuk sarapan bersama dengan sedikit suasana berbeda. Ini adalah salah satu cara kami untuk berkumpul dan berbagi.
Kami berdiri dalam antrian, menunggu untuk dilayani. Ternyata dipagi yang dingin itu cukup ramai pengunjung yang ingin juga menikmati sarapan direstoran tersebut. Senda gurau dan canda terdengar ditelinga saya belum lagi gelak tawa yang terkadang memecahkan keheningan restoran dan membuat beberapa pasang mata melihat kesumber tawa tersebut. Mudah sekali mereka untuk tertawa. Itulah yang hinggap dipikiran saya.
Saya dan suamipun mulai ngobrol sedikit ditengah antrian tersebut. Saya menceritakan tentang tugas terakhir yang harus saya kumpulkan dan meminta pendapat darinya kira-kira konsep seperti apa yang hinggap dipikirannya. Sambil tersenyum simpul dia berkata, “aku yakin engkau mampu melakukannya dan bersiaplah untuk sesuatu yang baru.” Saya hanya mengernyitkan dahi tanda sedikit tidak mengerti dengan ucapannya.
Ketika mendadak, setiap orang disekitar kami tiba-tiba menyingkir dan bahkan kemudian suami sayapun ikut menyingkir. Lalu seketika saya tidak bisa bergerak sedikitpun diikuti perasaan panic menguasai diri saya, ketika saya berbalik untuk melihat mengapa mereka semua menyingkir. Ketika saya saya berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang sangat menyengat, berdiri dibelakang saya dua orang tunawisma. Ketika saya menunduk melihat seorang yang lebih pendek yang berdiri dekat dengan saya, ia sedang “tersenyum”. Matanya yang biru langit indah penuh dengan cahaya Tuhan sepertinya ia minta untuk dapat diterima. Ia lalu berkata “good day”, sambil menghitung beberapa koin yang telah ia kumpulkan. Lelaki yang kedua memainkan tangannya dengan gerakan aneh sambil berdiri dibelakang temannya. Saya menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental dan lelaki dengan mata biru itu adalah “penolongnya”. Saya menahan haru ketika tetap berdiri disana bersama mereka. Sementara pengunjung lainnya menatap saya dengan perasaan “aneh”
Wanita muda dicounter menanyai lelaki itu apa yang mereka inginkan. Ia berkata,’kopi saja, nona” karena hanya itulah yang mampu mereka beli.
( karena jika mereka ingin duduk didalam restoran dan mengangatkan tubuh mereka, maka mereka harus membeli sesuatu. Mereka hanya ingin menghangatkan badan saja )
Saya tetap tenang dan segera berkata pada wanita dibelakang counter untuk memberikan pada saya dua paket makan pagi lagi dalam nampan terpisah. Kemudian saya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu sebagai tempat istirahatnya. Saya meletakkan tangan saya diatas tangan dingin lelaki bermata jernih itu. Ia melihat saya dengan mata berkaca dan berkata,”terima kasih”. Saya tersenyum dan berkata,”sama-sama, Pak,saya melakukannya karena Tuhan mau saya lakukan itu dan Ia mau bekerja melalui saya untuk memberimu harapan.”
Saya menangis ketika saya berjalan meninggalkannya dan bergabung dengan keluarga saya dimeja kami.
Ketika saya duduk, suami saya tersenyum dan berkata,” itulah sebabnya Tuhan memberi kamu kepadaku, untuk memberiku harapan.” Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami tahu, bahwa hanya karena anugerah Tuhan kami kami dapat memberi apa yang dapat kami berikan untuk orang lain yang membutuhkan !
Selang beberapa hari saya kembali kekelas sosiologi untuk mengumpulkan tugas yang diberikan dengan cerita ditangan saya ini. Saya menyerahkan “proyek” saya dan dosen saya membacanya. Kemudian ia melihat saya dan berkata,”bolehkan kisahmu saya bagikan kepada yang lainnya?” saya mengangguk perlahan dan seketika ia mulai membacakannya untuk yang lain. Saat itu saya tahu bahwa melalui kejadian yang saya alami dapat merupakan kesempatan untuk membagikan kasih Tuhan untuk orang lain.
Dengan cara yang Tuhan buat dalam hidup saya, melalui kejadian yang saya alami tersebut, telah menyentuh orang-orang yang ada direstoran, menyentuh keluargaku, suamiku, dosenku, dan setiap jiwa yang menghadiri ruang kelas dimalam terakhir saya sebagai mahasiswa. Saya lulus dengan satu pelajaran besar dalam hidup, bahwa pertama, kasih adalah penerimaan tanpa syarat. Kedua, cara bagaimana untuk mencintai sesama dengan memanfaatkan benda-benda ; bukannya mencintai benda dengan memanfaatkan sesama. (NN )
02 Rabu Sep 2009
Posted in Kisah Hidup
Sore itu seorang sahabat datang dan mengeluhkan tentang sang belahan jiwa yang sudah tak lagi “seperti dulu”.
“Dulunya ia tak seperti ini, tapi semenjak sebulan lalu semuanya mulai berubah”. “Saya berusaha tetap positive dan menaruh percaya penuh padanya tapi tanda-tanda “badai” itu semakin nyata. Dua hari lalu pulangnya sampai jam 2 malam. Lalu ketika kutanya, dia bilang urusan kerjaan dan meminta saya untuk tidak curiga yang aneh-aneh karena tubuhnya terlalu lelah untuk mendengar pertanyaan-pertanyaan saya. Kemarin tanda itu menjadi jelas, seorang perempuan menelpon dan setelah memberi berbagai alasan padaku, diapun pergi dan pulang larut malam lagi………………….dia telah berpaling pada yang lain dan meninggalkan aku dan anak-anak dalam derita dan sakit hati….!
Medengar cerita sahabat ini, hati saya sedih sebab mereka berdua adalah sahabat saya, dan keduanya saya kenal sebagai dua orang pribadi yang baik dan saling mengasihi. Namun mungkin waktu telah mengubah sang pria dan melupakan komitment pernikahannya untuk tetap saling setia, mengasihi dan mencintai sampai akhir. Mungkin.
Sambil merenung dan berpikir tentang keadaan sahabat saya tadi saya teringat sebuah cerita yang dikirimkan lewat email. Ceritanya begini :
Pagi itu saya sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Aku menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.
Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik kejam tangannya. Aku merasa kasihan. Jadi ketika sedang luang aku sempatkan untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, aku putuskan untuk melakukannya sendiri..
Sambil menangani lukanya, aku bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer.
Lalu kutanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir. Aku sangat terkejut dan berkata, ? Dan Bapak masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi?? Dia tersenyum ketika tangannya menepuk tanganku sambil berkata, “dia memang tidak mengenali saya nak,tapi saya masih mengenali dia, kan?”
Aku terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tanganku masih tetap gemetaran dan merinding. Cinta kasih seperti itulah yang aku inginkan dalam hidupku.
absolutely right !!!!, cinta kasih seperti itulah yang sahabat dan saya inginkan dan butuhkan didalam hidup kita.
Cinta, sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantic saja. Dalam konteks ini, cinta sejati adalah menerima apa adanya……
yang terjadi saat ini,… yang sudah terjadi,…… yang akan terjadi ,…… dan yang tidak akan pernah terjadi !
Bagi saya kisah ini menyampaikan satu pesan penting : Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik. Mereka hanya berbuat yang terbaik, dari apa yang mereka miliki.
GBU.
11 Selasa Agu 2009
Posted in Artikel Rohani
Ada 3 kelompok orang yang mewakili kepercayaan banyak orang dewasa ini. Pertama, kelompok yang tidak percaya kepada Tuhan. Kedua, kelompok yang percaya kepada Tuhan tetapi hidup berdasarkan kebenaran sendiri. Ketiga, kelompok yang sangat mengangungkan keberadaan manusia diatas segala-galanya. Kelompok-kelompok ini selalu bersaing untuk mempertahankan pandangan mereka. Mereka berusaha mengungguli atau mendominasi pandangan kelompok lain. Lalu kapan persaingan ini akan berakhir ? tak ada yang tahu pasti sebab masing-masing berusaha memenangkan pandangan mereka tentang TUHAN. Pertanyaannya adalah, apakah manusia mau menyembah Tuhan atau menyembah hal lain.
Ada sebuah puisiyang berjudul dan bersyair hanya terdiri dari satu kata saja yaitu, TUHAN. Seorang teolog yang membaca puisi itu berkata,’dalam syair puisi itu hanya ada satu realitas tertinggi, yaitu TUHAN.” Namun, teolog lain, setelah membaca puisi berkata,”ternyata dari puisi itu ada realitas lain yang muncul, yaitu HANTU (mungkin karena ia membalik kata Tu-han menjadi Han-tu ).
Contoh tersebut hanya ingin mengungkapkan bahwa dari satu realitas dapat muncul realitas yang lain. namun jika dilihat lagi ternyata sebenarnya ada relaitas ketiga yang muncul dari kata TUHAN yaitu kata TUAN ( mungkin huruf H dari kata Tuhan dihilangkan) yang akhirnya kata Tuan tersebut dapat menunjuk kepada manusia. Sekarang telah ada tiga realitas, yaitu Tuhan, Hantu dan Manusia ( Tuan ).
Dari tiga realitas pandangan diatas memunculkan kelompok-kelompok yang ingin mempertahankan pandangannya tentang TUHAN. Akibatnya terjadilah suatu persaingan konsep yang tidak kunjung habis seperti dalam cerita Fiktif berikut :
Teolog A : Sudah berpuluh-puluh tahun saya mempelajari teologi dan sungguh-sungguh bekerja keras untuk memahami Allah. Namun pada akhirnya saya mendapati bahwa Tuhan adalah suatu eksistensi yang berdiri sendiri. Tuhan adalah Pribadi yang sifatnya transenden. Ia berdiri dan berada diluar sana, dan bukan disini lagi sebab Ia sudah menyeksaikan tugasNya dengan baik. Allah telah dilahirkan menjadi manusia, bertumbuh, berkarya, mati dan bangkit kembali. Allah telah pergi untuk selama-lamanya. Konsep ini saya tulis didalam buku saya yang terbaru yang belum bisa diterbitkan, yang berjudul Seberkas Kepergian Yang Tidak Berbekas. Ya, itu saja pendahuluan dari saya.”
Teolog B : Berbicara tentang Tuhan amat menarik bagi saya sebab sepanjang hidup saya, saya selalu berusaha dengan sekuat tenaga untuk selalu setia beribadah kepadaNya. Dengan banyak melakukan kewajiban agama dan banyak berbuat amal-kebajikan, saya yakin bahwa saya kelak akan bertemu dengan Tuhan disurga. Oleh sebab itu bagi saya, hanya dengan iman dan perbuatan amal kita dapat menyatu dengan Tuhan. Pandangan mengenai hal ini juga ada didalam buku saya yang terbaru dengan judul Iman dan Amal. Saya harap anda semua mau membeli dan membacanya.
Teolog C : Menurut saya Tuhan adalah Yang Mahatinggi, Mahamulia, Mahasuci, Maha….pokoknya serba maha. Apabila kita ingin mencapainya, kita harus ber”tapa” dengan demikian, jiwa kita akan membumbung dan roh kita kepada Sang Khalik. Itulah proses menjadi “Tuhan”. Ketika roh kita kembali keasalnya, disitulah kita menyatu dengan Tuhan. Keyakinan saya ini telah saya tuangkan dalam buku saya yang belum sempat diterbitkan, yang berjudul Mekanisme Menjadi Tuhan yang Ilahi.
Teolog D : Tuhan adalah makluk rohani yang paling sempurna. Dialah Roh yang abadi. Manusia juga pada mulanya adalah roh, tetapi rohh itu telah terperangkap kedalam tubuh. Dengan demikian, kehidupan manusia selama didunia ini amat menentukan keberadaan roh itu kelak dikemudian hari.
Tiba-tiba teolog E memotong pertanyaan itu dengan nada sedikit protes.
Teolog E : Saya kurang setuju dengan pandangan anda semua. Sebab menurut saya manusia kini sudah dewasa dan sudah sungguh-sungguh menyadari keberadaannya. Dengan ilmu pengetahuan selama ribuan bahkan jutaan tahun, manusia telah berkembang dari manusia primitif menjadi manusia modern. Itulah maka manusia tidak memerlukan Tuhan lagi. Manusia sudah dewasa dan dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, manusia modern mampu menjadi “Tuhan” bagi dirinya sendiri. Nanti silahkan anda semua baca alasan-alasan dari semua pandangan saya itu dalam buku saya, Ketika Manusia Modern Mengungguli Tuhan, yang belum diterbitkan juga.
Teolog F : Saya agak setuju dengan pandangan anda, teolog E. Namun saya tetap mengakui ide adanya Tuhan meski belum mempercayainya 100%. Dalam buku saya yang terbaru, Tuhanku-Tuhanku Adalah Aku, anda dapat menemukan kebenaran pandangan saya itu !. Tahukah anda bahwa penemuan teologi saya itu akan sangat mengejutkan dunia modern dewasa ini ? Saya ingin mengajak semua orang untuk memahami Allah secara baru. Namun saya heran mengapa banyak orang, filsuf atau teolog yang menolak penemuan saya yang baru itu ? (sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia melanjutkan ) apakah mereka semua mau terus tinggal dalam tradisi-tradisi filsafat, teologi dan pemikiran mereka yang kuno dan usang itu ? saya akan membuktikan bahwa kisah kedatangan Anak Manusia 2000 tahun yang lalu itu hanyalah mitos belaka yang hanya pantas untuk anak-anak ingusan. Itu saja pernyataan saya !!!!!!
Demikianlah para teolog itu telah mengutarakan sedikit pandangan teologis mereka tentang Tuhan. Mungkin diantara kita ada yang berpikir dan berpendapat bahwa sedikit sedikit pandangan mereka saja sudah cukup mengejutkan kita, apalagi kalau buku mereka telah diterbitkan. Bisa-bisa tulisan-tulisan mereka mengguncangkan keyakinan banyak orang diseluruh dunia. namun pertanyaannya, benarkah pandangan-pandangan mereka itu ?
Kalau kita cermati pandangan para teolog fiktif tersebut, tampaknya keyakinan atau kepercayaan para teolog itu dianut juga oleh sebagian orang saat ini, yaitu orang yang tidak percaya kepada Tuhan, orang yang percaya pada Tuhan tetapi mereka hidup berdasarkan kebenaran diri sendiri, dan orang yang sangat mengagungkan keberadaan manusia diatas segalanya.
Kelompok-kelompok itulah yang selalu bersaing untuk mempertahankan pandangan mereka masing-masing, bahkan berusaha mengungguli atau mendominasi pandangan kelompok lain. kapan persaingan itu akan berhenti ? Tidak ada yang tahu pasti sebab masing-masing berusaha untuk memenangkan persaingan atas pendapat mereka tentang Tuhan.
Yang jelas, manusia sering mengurung Tuhan. Seolah-olah Tuhan hanya sebatas dan sejauh genggaman tangan kita atau Tuhan itu hanya sebatas pemikiran kita. Hal tersebut dibuktikan dari kecendrungan kita yang menganggap bahwa hanya pandangan kita sendiri saja yang paling benar. Kebenaran tentang Tuhan seolah-olah tunduk pada keyakinan manusia.

Dengan adanya polemik ini sebenarnya memunculkan pertanyaan, apakah manusia secara tulus mau mempercayai Tuhan dan menyembah Tuhan ? Atau sebaliknya, apakah secara diam-diam manusia justru hanya ingin menyembah egonya ?, pengertiannya ?. Apakah manusia sungguh-sungguh ingin menyembah Tuhan atau manusia hanya ingin menyembah dirinya sendiri ?
Pertanyaan-pertanyaan ini yang seharusnya kita jawab.
From : Suhandhy Susantio