Ada 3 kelompok orang yang mewakili kepercayaan banyak orang dewasa ini. Pertama, kelompok yang tidak percaya kepada Tuhan. Kedua, kelompok yang percaya kepada Tuhan tetapi hidup berdasarkan kebenaran sendiri. Ketiga, kelompok yang sangat mengangungkan keberadaan manusia diatas segala-galanya. Kelompok-kelompok ini selalu bersaing untuk mempertahankan pandangan mereka. Mereka berusaha mengungguli atau mendominasi pandangan kelompok lain. Lalu kapan persaingan ini akan berakhir ? tak ada yang tahu pasti sebab masing-masing berusaha memenangkan pandangan mereka tentang TUHAN. Pertanyaannya adalah, apakah manusia mau menyembah Tuhan atau menyembah hal lain.
Ada sebuah puisiyang berjudul dan bersyair hanya terdiri dari satu kata saja yaitu, TUHAN. Seorang teolog yang membaca puisi itu berkata,’dalam syair puisi itu hanya ada satu realitas tertinggi, yaitu TUHAN.” Namun, teolog lain, setelah membaca puisi berkata,”ternyata dari puisi itu ada realitas lain yang muncul, yaitu HANTU (mungkin karena ia membalik kata Tu-han menjadi Han-tu ).
Contoh tersebut hanya ingin mengungkapkan bahwa dari satu realitas dapat muncul realitas yang lain. namun jika dilihat lagi ternyata sebenarnya ada relaitas ketiga yang muncul dari kata TUHAN yaitu kata TUAN ( mungkin huruf H dari kata Tuhan dihilangkan) yang akhirnya kata Tuan tersebut dapat menunjuk kepada manusia. Sekarang telah ada tiga realitas, yaitu Tuhan, Hantu dan Manusia ( Tuan ).
Dari tiga realitas pandangan diatas memunculkan kelompok-kelompok yang ingin mempertahankan pandangannya tentang TUHAN. Akibatnya terjadilah suatu persaingan konsep yang tidak kunjung habis seperti dalam cerita Fiktif berikut :
Teolog A : Sudah berpuluh-puluh tahun saya mempelajari teologi dan sungguh-sungguh bekerja keras untuk memahami Allah. Namun pada akhirnya saya mendapati bahwa Tuhan adalah suatu eksistensi yang berdiri sendiri. Tuhan adalah Pribadi yang sifatnya transenden. Ia berdiri dan berada diluar sana, dan bukan disini lagi sebab Ia sudah menyeksaikan tugasNya dengan baik. Allah telah dilahirkan menjadi manusia, bertumbuh, berkarya, mati dan bangkit kembali. Allah telah pergi untuk selama-lamanya. Konsep ini saya tulis didalam buku saya yang terbaru yang belum bisa diterbitkan, yang berjudul Seberkas Kepergian Yang Tidak Berbekas. Ya, itu saja pendahuluan dari saya.”
Teolog B : Berbicara tentang Tuhan amat menarik bagi saya sebab sepanjang hidup saya, saya selalu berusaha dengan sekuat tenaga untuk selalu setia beribadah kepadaNya. Dengan banyak melakukan kewajiban agama dan banyak berbuat amal-kebajikan, saya yakin bahwa saya kelak akan bertemu dengan Tuhan disurga. Oleh sebab itu bagi saya, hanya dengan iman dan perbuatan amal kita dapat menyatu dengan Tuhan. Pandangan mengenai hal ini juga ada didalam buku saya yang terbaru dengan judul Iman dan Amal. Saya harap anda semua mau membeli dan membacanya.
Teolog C : Menurut saya Tuhan adalah Yang Mahatinggi, Mahamulia, Mahasuci, Maha….pokoknya serba maha. Apabila kita ingin mencapainya, kita harus ber”tapa” dengan demikian, jiwa kita akan membumbung dan roh kita kepada Sang Khalik. Itulah proses menjadi “Tuhan”. Ketika roh kita kembali keasalnya, disitulah kita menyatu dengan Tuhan. Keyakinan saya ini telah saya tuangkan dalam buku saya yang belum sempat diterbitkan, yang berjudul Mekanisme Menjadi Tuhan yang Ilahi.
Teolog D : Tuhan adalah makluk rohani yang paling sempurna. Dialah Roh yang abadi. Manusia juga pada mulanya adalah roh, tetapi rohh itu telah terperangkap kedalam tubuh. Dengan demikian, kehidupan manusia selama didunia ini amat menentukan keberadaan roh itu kelak dikemudian hari.
Tiba-tiba teolog E memotong pertanyaan itu dengan nada sedikit protes.
Teolog E : Saya kurang setuju dengan pandangan anda semua. Sebab menurut saya manusia kini sudah dewasa dan sudah sungguh-sungguh menyadari keberadaannya. Dengan ilmu pengetahuan selama ribuan bahkan jutaan tahun, manusia telah berkembang dari manusia primitif menjadi manusia modern. Itulah maka manusia tidak memerlukan Tuhan lagi. Manusia sudah dewasa dan dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, manusia modern mampu menjadi “Tuhan” bagi dirinya sendiri. Nanti silahkan anda semua baca alasan-alasan dari semua pandangan saya itu dalam buku saya, Ketika Manusia Modern Mengungguli Tuhan, yang belum diterbitkan juga.
Teolog F : Saya agak setuju dengan pandangan anda, teolog E. Namun saya tetap mengakui ide adanya Tuhan meski belum mempercayainya 100%. Dalam buku saya yang terbaru, Tuhanku-Tuhanku Adalah Aku, anda dapat menemukan kebenaran pandangan saya itu !. Tahukah anda bahwa penemuan teologi saya itu akan sangat mengejutkan dunia modern dewasa ini ? Saya ingin mengajak semua orang untuk memahami Allah secara baru. Namun saya heran mengapa banyak orang, filsuf atau teolog yang menolak penemuan saya yang baru itu ? (sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia melanjutkan ) apakah mereka semua mau terus tinggal dalam tradisi-tradisi filsafat, teologi dan pemikiran mereka yang kuno dan usang itu ? saya akan membuktikan bahwa kisah kedatangan Anak Manusia 2000 tahun yang lalu itu hanyalah mitos belaka yang hanya pantas untuk anak-anak ingusan. Itu saja pernyataan saya !!!!!!
Demikianlah para teolog itu telah mengutarakan sedikit pandangan teologis mereka tentang Tuhan. Mungkin diantara kita ada yang berpikir dan berpendapat bahwa sedikit sedikit pandangan mereka saja sudah cukup mengejutkan kita, apalagi kalau buku mereka telah diterbitkan. Bisa-bisa tulisan-tulisan mereka mengguncangkan keyakinan banyak orang diseluruh dunia. namun pertanyaannya, benarkah pandangan-pandangan mereka itu ?
Kalau kita cermati pandangan para teolog fiktif tersebut, tampaknya keyakinan atau kepercayaan para teolog itu dianut juga oleh sebagian orang saat ini, yaitu orang yang tidak percaya kepada Tuhan, orang yang percaya pada Tuhan tetapi mereka hidup berdasarkan kebenaran diri sendiri, dan orang yang sangat mengagungkan keberadaan manusia diatas segalanya.
Kelompok-kelompok itulah yang selalu bersaing untuk mempertahankan pandangan mereka masing-masing, bahkan berusaha mengungguli atau mendominasi pandangan kelompok lain. kapan persaingan itu akan berhenti ? Tidak ada yang tahu pasti sebab masing-masing berusaha untuk memenangkan persaingan atas pendapat mereka tentang Tuhan.
Yang jelas, manusia sering mengurung Tuhan. Seolah-olah Tuhan hanya sebatas dan sejauh genggaman tangan kita atau Tuhan itu hanya sebatas pemikiran kita. Hal tersebut dibuktikan dari kecendrungan kita yang menganggap bahwa hanya pandangan kita sendiri saja yang paling benar. Kebenaran tentang Tuhan seolah-olah tunduk pada keyakinan manusia.

Dengan adanya polemik ini sebenarnya memunculkan pertanyaan, apakah manusia secara tulus mau mempercayai Tuhan dan menyembah Tuhan ? Atau sebaliknya, apakah secara diam-diam manusia justru hanya ingin menyembah egonya ?, pengertiannya ?. Apakah manusia sungguh-sungguh ingin menyembah Tuhan atau manusia hanya ingin menyembah dirinya sendiri ?
Pertanyaan-pertanyaan ini yang seharusnya kita jawab.
From : Suhandhy Susantio