Saya adalah seorang ibu dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah sosiologi. Sang dosen sangat inpiratif dan teropsesi dengan kualitas yang diharapkan agar setiap orang memilikinya. Tugas akhir yang diberikan diberi nama “tersenyum”. Seluruh siswa diminta untuk pergi keluar dan tersenyum kepada tiga orang dan mendokumentasikan reaksi mereka.
Saya adalah seorang yang mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang dan mengatakan “hello” jadi saya berpikir tugas ini sangatlah mudah. Segera setelah kami menerima tugas tersebut saya mulai mencari-cari ide seperti apakah nantinya agar tugas ini selesai. Ceritakan saja hal-hal yang lucu, bertemu dengan ibu-ibu yang lainnya didepan rumah ataupun sekedar menyapa penjaga kasir disupermarket adalah cara termudah untuk menyelesaikan tugas ini. Namun saya menginginkan hal lain yang tergolong unik. “hm…mm..sulit sekali menimbulkan ide kreatif tersebut,” pikirku dalam hati sambil mempersiapkan makan malam hari itu.
Pada minggu berikutnya disuatu pagi dibulan Desember yang sangat dingin dan lembab, saya sekeluarga pergi ke sebuah tempak makan fast food untuk sarapan bersama dengan sedikit suasana berbeda. Ini adalah salah satu cara kami untuk berkumpul dan berbagi.
Kami berdiri dalam antrian, menunggu untuk dilayani. Ternyata dipagi yang dingin itu cukup ramai pengunjung yang ingin juga menikmati sarapan direstoran tersebut. Senda gurau dan canda terdengar ditelinga saya belum lagi gelak tawa yang terkadang memecahkan keheningan restoran dan membuat beberapa pasang mata melihat kesumber tawa tersebut. Mudah sekali mereka untuk tertawa. Itulah yang hinggap dipikiran saya.
Saya dan suamipun mulai ngobrol sedikit ditengah antrian tersebut. Saya menceritakan tentang tugas terakhir yang harus saya kumpulkan dan meminta pendapat darinya kira-kira konsep seperti apa yang hinggap dipikirannya. Sambil tersenyum simpul dia berkata, “aku yakin engkau mampu melakukannya dan bersiaplah untuk sesuatu yang baru.” Saya hanya mengernyitkan dahi tanda sedikit tidak mengerti dengan ucapannya.
Ketika mendadak, setiap orang disekitar kami tiba-tiba menyingkir dan bahkan kemudian suami sayapun ikut menyingkir. Lalu seketika saya tidak bisa bergerak sedikitpun diikuti perasaan panic menguasai diri saya, ketika saya berbalik untuk melihat mengapa mereka semua menyingkir. Ketika saya saya berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang sangat menyengat, berdiri dibelakang saya dua orang tunawisma. Ketika saya menunduk melihat seorang yang lebih pendek yang berdiri dekat dengan saya, ia sedang “tersenyum”. Matanya yang biru langit indah penuh dengan cahaya Tuhan sepertinya ia minta untuk dapat diterima. Ia lalu berkata “good day”, sambil menghitung beberapa koin yang telah ia kumpulkan. Lelaki yang kedua memainkan tangannya dengan gerakan aneh sambil berdiri dibelakang temannya. Saya menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental dan lelaki dengan mata biru itu adalah “penolongnya”. Saya menahan haru ketika tetap berdiri disana bersama mereka. Sementara pengunjung lainnya menatap saya dengan perasaan “aneh”
Wanita muda dicounter menanyai lelaki itu apa yang mereka inginkan. Ia berkata,’kopi saja, nona” karena hanya itulah yang mampu mereka beli.
( karena jika mereka ingin duduk didalam restoran dan mengangatkan tubuh mereka, maka mereka harus membeli sesuatu. Mereka hanya ingin menghangatkan badan saja )
Saya tetap tenang dan segera berkata pada wanita dibelakang counter untuk memberikan pada saya dua paket makan pagi lagi dalam nampan terpisah. Kemudian saya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu sebagai tempat istirahatnya. Saya meletakkan tangan saya diatas tangan dingin lelaki bermata jernih itu. Ia melihat saya dengan mata berkaca dan berkata,”terima kasih”. Saya tersenyum dan berkata,”sama-sama, Pak,saya melakukannya karena Tuhan mau saya lakukan itu dan Ia mau bekerja melalui saya untuk memberimu harapan.”
Saya menangis ketika saya berjalan meninggalkannya dan bergabung dengan keluarga saya dimeja kami.
Ketika saya duduk, suami saya tersenyum dan berkata,” itulah sebabnya Tuhan memberi kamu kepadaku, untuk memberiku harapan.” Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami tahu, bahwa hanya karena anugerah Tuhan kami kami dapat memberi apa yang dapat kami berikan untuk orang lain yang membutuhkan !
Selang beberapa hari saya kembali kekelas sosiologi untuk mengumpulkan tugas yang diberikan dengan cerita ditangan saya ini. Saya menyerahkan “proyek” saya dan dosen saya membacanya. Kemudian ia melihat saya dan berkata,”bolehkan kisahmu saya bagikan kepada yang lainnya?” saya mengangguk perlahan dan seketika ia mulai membacakannya untuk yang lain. Saat itu saya tahu bahwa melalui kejadian yang saya alami dapat merupakan kesempatan untuk membagikan kasih Tuhan untuk orang lain.
Dengan cara yang Tuhan buat dalam hidup saya, melalui kejadian yang saya alami tersebut, telah menyentuh orang-orang yang ada direstoran, menyentuh keluargaku, suamiku, dosenku, dan setiap jiwa yang menghadiri ruang kelas dimalam terakhir saya sebagai mahasiswa. Saya lulus dengan satu pelajaran besar dalam hidup, bahwa pertama, kasih adalah penerimaan tanpa syarat. Kedua, cara bagaimana untuk mencintai sesama dengan memanfaatkan benda-benda ; bukannya mencintai benda dengan memanfaatkan sesama. (NN )
Sore itu seorang sahabat datang dan mengeluhkan tentang sang belahan jiwa yang sudah tak lagi “seperti dulu”.