Sore itu seorang sahabat datang dan mengeluhkan tentang sang belahan jiwa yang sudah tak lagi “seperti dulu”.
“Dulunya ia tak seperti ini, tapi semenjak sebulan lalu semuanya mulai berubah”. “Saya berusaha tetap positive dan menaruh percaya penuh padanya tapi tanda-tanda “badai” itu semakin nyata. Dua hari lalu pulangnya sampai jam 2 malam. Lalu ketika kutanya, dia bilang urusan kerjaan dan meminta saya untuk tidak curiga yang aneh-aneh karena tubuhnya terlalu lelah untuk mendengar pertanyaan-pertanyaan saya. Kemarin tanda itu menjadi jelas, seorang perempuan menelpon dan setelah memberi berbagai alasan padaku, diapun pergi dan pulang larut malam lagi………………….dia telah berpaling pada yang lain dan meninggalkan aku dan anak-anak dalam derita dan sakit hati….!
Medengar cerita sahabat ini, hati saya sedih sebab mereka berdua adalah sahabat saya, dan keduanya saya kenal sebagai dua orang pribadi yang baik dan saling mengasihi. Namun mungkin waktu telah mengubah sang pria dan melupakan komitment pernikahannya untuk tetap saling setia, mengasihi dan mencintai sampai akhir. Mungkin.
Sambil merenung dan berpikir tentang keadaan sahabat saya tadi saya teringat sebuah cerita yang dikirimkan lewat email. Ceritanya begini :
Pagi itu saya sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Aku menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.
Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik kejam tangannya. Aku merasa kasihan. Jadi ketika sedang luang aku sempatkan untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, aku putuskan untuk melakukannya sendiri..
Sambil menangani lukanya, aku bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer.
Lalu kutanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir. Aku sangat terkejut dan berkata, ? Dan Bapak masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi?? Dia tersenyum ketika tangannya menepuk tanganku sambil berkata, “dia memang tidak mengenali saya nak,tapi saya masih mengenali dia, kan?”
Aku terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tanganku masih tetap gemetaran dan merinding. Cinta kasih seperti itulah yang aku inginkan dalam hidupku.
absolutely right !!!!, cinta kasih seperti itulah yang sahabat dan saya inginkan dan butuhkan didalam hidup kita.
Cinta, sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantic saja. Dalam konteks ini, cinta sejati adalah menerima apa adanya……
yang terjadi saat ini,… yang sudah terjadi,…… yang akan terjadi ,…… dan yang tidak akan pernah terjadi !
Bagi saya kisah ini menyampaikan satu pesan penting : Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik. Mereka hanya berbuat yang terbaik, dari apa yang mereka miliki.
GBU.