tempayan-retak2Sahabat,  tidak banyak yang bisa saya tulis diblog saat ini, tapi saya punya satu kisah yang ingin saya bagikan buat sahabat.   Dibaca ya….

Sahabatku……, terkadang jika kita membandingkan diri kita dengan orang lain,dalam menghadapi sesuatu, dalam suatu situasi tertentu- kita merasa “kurang”.

Kurang berguna,…….. kurang beruntung,….. kurang baik,……… kurang berhasil, kurang….,kurang…. dan kurang”.  Saya pernah merasakan hal seperti itu.   Apakah sahabat pernah merasakannya juga ?

Pada saat-saat tertentu dalam sesuatu hal tertentu, terkadang saya merasa seakan-akan saya berfungsi tidak maksimal, merasa tak berarti bahkan tak berguna.  Dan itu melemahkan hati saya.

Tapi sahabat coba renungkan cerita dibawah ini dan mari kita sama-sama ingat bahwa setiap kita berharga dan Tuhan sanggup memakai ketidak sempurnaan kita menjadi tepat pada fungsinya dan berguna untuk menolong diri kita sendiri dan orang lain.

Sebab Sang Pencipta kita kan bilang : ” Karena kita ini buatan tanganNya, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. jadi  Ia mau supaya kita hidup didalamnya “

Seorang ibu yang sudah tua memiliki dua buah tempayan air, yang dipikul di pundaknya dengan menggunakan sebatang bambu.
Salah satu dari tempayan itu retak, sedangkan yang satunya tak bercela dan selalu memuat air hingga penuh.

Setibanya di rumah setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air di tempayan yang retak tinggal separuh.

Selama dua tahun hal ini berlangsung setiap hari, dimana ibu itu membawa pulang air hanya satu setengah tempayan.

Tentunya si tempayan yang utuh sangat bangga akan pencapaiannya.

Namun tempayan yang retak merasa malu akan kekurangannya dan sedih sebab hanya bisa memenuhi setengah dari kewajibannya.

Setelah  dua tahun yang dianggapnya sebagai kegagalan-dilaluinya, akhirnya dia berbicara kepada ibu tua itu di dekat sungai.

“Aku malu, sebab air bocor dan tumpah melalui bagian tubuhku yang retak di sepanjang jalan menuju ke rumahmu.” Aku begitu menyesal dan merasa sedih serta tak berguna. Apa yang dapat kulakukan dengan keadaanku yang tak sempurna ini ?

Ibu itu tersenyum dan berkata, “tidakkah kau lihat bunga beraneka warna di jalur yang kau lalui, namun tidak ada di jalur yang satunya ?

Aku sudah tahu kekuranganmu, jadi aku menabur benih bunga di jalurmu dan setiap hari dalam perjalanan pulang kau menyirami benih-benih itu.

Selama dua tahun aku bisa memetik bunga-bunga cantik untuk menghias mejaku dan membagikannya kepada tetanggaku yang memerlukannya.

Kalau kau tidak seperti itu, maka rumah ini dan rumah tetanggaku tidak seasri seperti ini sebab tidak ada bunga.

Sahabat,  tanpa kita sadari, keretakan dan kekurangan itulah yang menjadikan hidup kita bersama menyenang-kan dan memuaskan.  Karena itu kita harus menerima setiap orang apa adanya dan mencari yang terbaik dalam diri mereka.

Rekan-rekan sesama tempayan yang retak, semoga hari-hari kalian menyenangkan dan jangan lupa menikmati dan mencium harumnya bunga-bunga, di jalur kalian.”

Salam.