Laaammmmaaaaaaa…..tak mem-posting sesuatu disini membuat resah.  Namun  beberapa bulan belakangan ini saya benar-benar sibuk karena beberapa tugas dan tanggungjawab hidup yang memerlukan perhatian lebih.  Lalu ternyata (akhirnya ) merasa bahwa tidak “menulis” membuat saya seperti “kehilangan” sesuatu  So, hari ini saya berusaha menulis lagi disini, karena saya perlu melakukannya.

Beberapa waktu belakangan ini saya sering sekali meninggalkan rumah karena tugas dan tanggungjawab pekerjaan yang lebih besar yang telah diberikan oleh Tuhan melalui institusi kami  untuk  dikerjakan.  Hal mana membutuhkan energy dan  tanggungjawab lebihpula-tentunya.  Akhirnya tubuh dan pikiran saya terkadang menjadi “lelah” jadi sulit rasanya untuk benar-benar bisa menulis sesuatu diblog saya ini, padahal saya pingin sekali.  Karena bagi saya blog rancangan saya ini layaknya juga seperti sebuah rumah bagi saya.  Terkadang saya suka berada berlama-lama disini sekedar hanya untuk menata dalam tanda kutip “rumah” saya ini.  Sehingga ketika harus melakukan tanggungjawab lain yang menyita banyak waktu dan konsentrasi, lalu meninggalkannya begitu saja, membuat saya merasa rindu rumah, saya merasa homesick.

Sahabat, bagi sebagian besar kaum perempuan( kalo tak salah ya… ), berada dirumah dikelilingi keluarga dan sahabat-sahabat-merupakan kebutuhan “primerrrrrrrrr”…….ka-reee-nnnnnaaaa…….s a- n g a t ….. me-nye-nang-kan…….,  sebab pada dasarnya bagi sebagian kita, rumah adalah lambang keamanan, perlindungan, dan ketentraman.  Yang menyebut dirinya wanita pasti….…membutuhkan ketiga hal itu,..benar kan ???

Saya tergolong dalam model yang seperti itu, sangat perlu dan bergantung pada ketiga hal diatas, sehingga jika ada suatu keadaan atau kondisi atau situasi tertentu yang ingin memisahkan saya dari rasa dilindungi,  keamanan dan ketentraman, tindakan utama saya adalah berusaha mati-matian mempertahankannya.  Tapi itu dulu…….

Kini beberapa hal mendasar dan prinsip telah  menggeser kesenangan dan kenyamanan sementara saya itu. Sebenarnya yang ingin saya tuliskan disini bukan tentang hal saya itu. Kita lupakan saja dulu.  Yang saya maksudkan disini sahabat adalah bahwa dari “persoalan-persoalan” diatas, saya belajar satu hal kini bahwa walau saya selalu rindu rumah dengan ketenangan dan ketentramannya namun semuanya menjadi kurang penting manakala saya bandingkan dengan upaya yang  saya lakukan dalam hidup ini- disebabkan karena saya lebih mementingkan rumah kehidupan kekal saya nanti.  Karena itu saya belajar kini bahwa untuk bisa menerima sesuatu yang lebih itu, kita terkadang harus rela melepaskan sesuatu yang bersifat sementara yang mungkin selama ini telah menjadi kesenangan,atau “kebutuhan” atau kesukaan kita, yang mungkin kini telah menjadi tempat kita bergantung atau bersandar dalam tanda kutip, yang membuat kita lebih mengutamakan hal-hal jasmaniah dan melupakan dan mengesampingkan hal-hal batiniah-yang bersifat rohaniah-yang merupakan hal kekekalan.  Yang bersifat jasmaniah ini telah menahan kita meningkat ke next level atau  maju ke tingkatan yang lebih lagi.  Jadi, intinya supaya kita bisa bertumbuh menjadi lebih baik…lebih kuat…lebih  memahami….lebih “hidup”….lebih dewasa…lebih,lebih…& lebih….pokoknya  lebih dari sebelumnya maka untuk  hal prinsip ini-kita perlu satu kata kunci. berkorban.  ( Mungkin hal yang saya maksudkan ini ada hubungannya dengan perayaan Idul Adha yang dirayakan tgl.27 lalu oleh teman-teman muslim kita ya ?)

Ini menjadi penting, karena kita manusia yang hidup,  dan karena kita hidup, maka kita harus dan akan terus bertumbuh kearah yang lebih baik.   Untuk bertumbuh kita memerlukan apa yang disebut korban/perlu berkorban.  Waktu, tenaga,perasaan,keinginan,kesenangan, hobby, dan lain sebagainya.  Memang korban awalnya menyakitkan, tapi setelah itu kita pasti akan mensyukuri hasilnya !

Sahabat, menurut kamus  bahasa Indonesia kata korban berarti pemberian untuk menyatakan bakti, kesetiaan,   Dikalangan sahabat muslim dikenal istilah kurban  yang artinya : jangankan harta, jiwa sekalipun kami berikan sbg  kurban. Korban juga punya arti, orang, binatang, dsb. yg menjadi menderita (mati dsb.) akibat suatu kejadian, perbuatan jahat.

Sedangkan kata berkorban hampir sama artinya yaitu perbuatan untuk  menyatakan bakti, kesetiaan, menjadi korban, menderita (rugi dsb) memberikan sesuatu sbg korban =  rela – demi kejayaan ( bangsa,Negara )

Korban dalam kosa kata bahasa Inggris = Sacrifice  = religious offering,  mouslim= the offering made at rites celebrating idul adha,  victims

Kamus Alkitab  menjelaskan tentang korban dalam arti ini  :

Korban adalah Persembahan kepada Allah untuk memuliakan Dia (korban sajian), untuk memelihara persekutuan dengan Dia (korban bakaran , korban keselamatan dan korban pujian), untuk menebus dosa dan kesalahan (korban penghapus dosa, korban penebus salah).  Yesus Kristus mengorbankan diri-Nya sekali untuk selamanya sebagai korban penebus dosa.  Jemaat Kristen dianjurkan untuk berkorban atas dasar perbuatan Yesus itu (Rm. 12:1),  khususnya mempersembahkan korban pujian (Ibr. 13:15).

Intinya saya lihat bahwa didalam semua agama mengajarkan nilai ini.  Karena itu setiap kita yang menyebut dirinya ciptaan, layak berkorban untuk Penciptanya dengan jalan mau berkorban bagi orang lain/sesama.   Sebab tanpa korban semua kita berada pada kondisi hidup yang sia-sia dan percuma.  Tidak berkualitas.  Bahkan karena ketidak mauan untuk berkorban membuat kita menjadi orang yang selfis yang mementingkan diri.  Jika semua kita hanya mementingkan diri sendiri atau menempatkan kepentingan diri sendiri lebih tinggi dari kepentingan lainnya, maka apakah berlebihan jika saya berpikir bahwa mungkin suatu saat nanti lingkungan dimana kita hidup ini   akan    berubah    menjadi    rimba  ?

Jelas  ada hubungannya dengan hal diatas, sahabat, hari-hari ini dibangsa saya ini, saya melihat dan memperhatikan  bahwa ternyata untuk suatu tujuan yang sementara, orang cenderung melakukan apa saja, tak perduli hal itu halal atau haram, benar atau salah.  Bahkan untuk dapat hidup mereka rela mengambil hidup orang lain.  Untuk membenarkan diri mereka tega menyalahkan orang lain, untuk menyelamatkan diri, instansi, korps, mereka berani menghancurkan, instansi, korps, institusi lain.  Sesuatu yang secara moral dan etika ditentang semua orang dibangsa ini tapi kenyataannya dilakukan oleh sebagian besar orang dibangsa ini.  Jika begini, saya bertanya kini,  apa makna korban ?  maukah kita berkorban ? dapatkan kita berkorban ?  Bila kita mau, saran saya, mulailah dari diri sendiri.

Sahabat, saya mau berkorban.  Hanya karena satu alasan, bahwa saya yang hina dan berdosa ini telah diselamatkan dan dipilihNya untuk menjadi bagian dari pekerjaanNya yang besar dibumi ini.  Seperti dalam makna ilustrasi dibawah ini  :

Seorang Tuan sedang mencari sebuah bejana.  Ada beberapa bejana tersedia, manakah yang akan dipilih?

“Pilihlah aku,” teriak bejana emas,”Aku mengkilap dan bercahaya. Aku sangat berharga dan aku melakukan segala sesuatu dengan benar.  Keindahanku akan mengalahkan yang lain. Dan untuk orang seperti Tuanku, emas adalah yang terbaik kan ?!”

Tuan itu hanya lewat saja tanpa mengeluarkan sepatah kata.

Kemudian ia melihat suatu bejana perak, ramping dan tinggi.
“Aku akan melayani engkau Tuanku, aku akan menuangkan anggurmu dan aku akan berada di mejamu di setiap acara jamuan makan.  Garisku sangat indah, ukiranku sangat nyata.  Dan perakku akan selalu memujimu.”

Tuan itu terus berjalan dan menemukan sebuah bejana tembaga.

Bejana ini besar dan dipoles seperti kaca.

“Sini! Sini!” teriak bejana itu, “aku tahu aku akan terpilih. Taruhlah aku dimejamu, maka semua orang akan memandangku.”

“Lihatlah aku!”, panggil bejana kristal yang sangat jernih. Aku sangat transparan, menunjukkan betapa baiknya aku.  Meskipun aku mudah pecah, aku akan melayani engkau dengan kebanggaanku.  Dan aku yakin, aku akan bahagia dan senang tinggal dalam rumahmu.”

Tuan itu kemudian menemukan bejana kayu.  Dipoles dan terukir indah, berdiri dengan teguh.

“Engkau dapat memakai aku, tuanku, kata bejana kayu. Tapi aku lebih senang bila engkau memakaiku untuk buah-buahan, bukan untuk roti.”

Kemudian tuan itu melihat ke bawah dan melihat bejana tanah liat. Kosong dan hancur, terbaring begitu saja.  Tidak ada harapan untuk terpilih sebagai bejana Tuan itu.

Ah! Inilah bejana yang aku perlukan.  Akan Kuperbaiki dan Kupakai, akan Kubuat sebagai milikku  seutuhnya.  Aku tidak membutuhkan bejana yang mempunyai kebanggaan. Tidak juga bejana yang terlalu tinggi untuk ditaruh di rak.  Tidak juga yang besar dan dalam. Tidak juga yang memamerkan isinya dengan bangga. Tidak juga yang merasa paling baik. Tetapi yang kucari adalah bejana tanah liat yang kosong dan hancur,yang takdipandang baik, itulah yang akan Kubentuk kembali menjadi bejana baru yang utuh, kuat dan indah.

Kemudian Ia mengangkat bejana tanah liat itu. Ia memperbaiki membersihkannya dan memenuhinya.  Ia berbicara dengan lembut kepada bejana itu, “Ada tugas yang perlu engkau kerjakan, jadilah berkat buat orang lain, seperti apa yang telah Kuperbuat bagimu.”

Demikianlah halnya dengan Tuhan.  Ia mencari sahabat dan saya yang mungkin “kelihatan” buruk dan tidak baik, tidak indah , kecil dan tidak terpandang bagi manusia,  namun Ia mau memilih,membentuk,memenuhi dan memakai kita untuk memberkati dan menjadi berkat bagi orang lain.  Untuk itu Ia mau  sahabat dan saya menjadi orang yang mau dibentuk, sekalipun harus melalui hal-hal menyakitkan.

Oh, ya..sahabat….., saya ingat kata seorang mentor, dia bilang….hidup ini tak lama, mengapa tidak menambah kualitas ?

Sahabatku, melalui hal-hal yang saya lewati dalam jam-jam kehidupan ini, saya tahu satu hal, bahwa didalam kwalitas, selalu mengandung nilai waktu dan proses.  Juga korban.

Jadi, walau baru ini yang bisa ditulis disini saat ini, harap saya semoga ini dapat bermanfaat.

God Bless You.