Baru kelar  Acara  SoE  Blessing dan orang-orang lagi siap-siap mau  pulang.  Sudah hampir  jam 9 malam dan diluar  kabut sudah  turun. Pekat  dan tebal  menyemburkan rasa dingin yang meresap ketulang.   Karena  seorang  sahabat bersedia mengantar orang-orang yang tidak bawa kendaraan  pulang maka kami  tak harus berjibaku dulu dgn dingin dan kabut – setidaknya  untuk malam ini.  Sambil mencoba menggerakkan tangan dan kaki seraya berjalan naik turun tangga menggerakkan badan kemuka belakang kiri-kanan, pokoknya gerak sebab kalau  diam saja maka rasa dingin ini akan segera melumpuhkanmu.  Jam 9 malam ditempat kami sudah sepi. Pintu-pintu rumah sudah ditutup sejak jam 6 bahkan orang-orang sudah didalam  rumah dan tidak  kemana-mana lagi.  Saya mencoba mengalihkan perhatian  dari rasa dingin ini  dengan membaca buku namun  sebentar-sebentar  harus berhenti untuk gerakkan jari-jari yang  sepertinya akan jadi  kaku.  Ughhhh….jengkel rasanya tak bisa konsen baca.  Disituasi dingin, beku, sepi,kabut tebal gini memang diperlukan kreatifitas tinggi untuk tidak jadi bosan,malas,jengkel,marah,lalu berakhir dengan masuk kedalam selimut dengan perlengkapan tidur lengkap : jaket tebal,kaos kaki ,syal,penutup kepala, selimut tebal dua……dan tidur (kalau bisa ).

Mengapa harus saya yang selalu dibawa kedalam kondisi  sulit seperti  ini ? Mengapa harus disini dengan keadaan seperti “diikat” begini ? Tubuh  saya telah menolak kondisi ini, gatal-gatal dan kulit memerah seperti keracunan. Alergi dingin.  Mengapa  harus saya ?   Apakah saya akhirnya akan mampu keluar dari situasi ini dengan baik.  Lalu tidak lari dari kesulitan -  tetapi hadapi dan menang atas dingin, kabut, beku, sunyi, bosan, statis, jadi malas, tidak bisa kreatif, melawan kondisi alam dan cara hidup disini ? Apa jadinya bila nanti saya ternyata tak mampu adaptasi dgn baik dan gagal..tidak sampai sasaran, tidak sampai tujuan,  tidak dapat berbuat apa-apa ?????

Pikiran saya berputar kembali ingat sekitar  10 tahun tahun lalu.  Waktu itu I am still a single woman. Walau harus bekerja jauh dari keluarga dan family tapi tetap happy, aktivitas tinggi, bebas berkespresi, gaul abis, punya banyak sahabat dan saudara,aktifis gereja, bekerja keras,  disukai dan dikasihi sahabat & saudara….hmmmm….Perfecto !.  Tapi lalu jalan hidup ini terbalik 180 derajat setelah  kemudian menikah dgn seorang pelayan Tuhan yang telah menyerahkan hidup sepenuhnya pada panggilan  Tuhan, saya gamang.  Ritme hidup saya mulai  berubah.  Dari yang terbiasa hidup berfokus pada kerja cari duit halal sebanyak-banyaknya, ngandalin otak, kerja keras dan kemampuan diri lalu kini apa-apa harus doa dulu, Tanya Tuhan dulu, andalin Tuhan one hundred percent, saya pusing tujuh keliling.  Bingung menunggu dan menanti apa yang Tuhan mau dan inginkan.  Dari yang  100% menganggap diri bisa, dibalik untuk 100% ngandain Tuhan seru semesta alam untuk ngatur ini hidup, nentukan arah pelayanan dan mengharapkan direct-Nya day by day dengan penuh kesabaran, harap dan kepasrahan Total..tal..tal…tal.  Yang dulunya one man show kini harus jadi wanita behind….  Pendukung suami, rekan kerja suami, untuk jadi kawan sekerja Allah diladang-Nya.  Awalnya sangat tidak mudah bagi  saya. Saya sering gagal dan DIA tahu saya banyak lakukan kesalahan.  Tapi saya belajar ekstra keras day by day, melatih diri saya day by day.  Harus mengikis banyak bagian didalam hidup yang telah bertahun-tahun dibentuk dimasa “sendiri” dinegeri orang, harus bersedia dihancurkan dan dibentuk kembali jadi bejana yang lebih baik, lebih indah, lebih kuat, lebih bermakna, untuk proyek besarnya Tuhan-melayani sesama.  Belum semuanya berhasil tapi saya memberi diri.

Saya teringat sebuah perkataan Yesus didalam Injil Yohanes psl. 21:18 Yesus berkata kepada Simon Petrus,  Aku berkata kepadamu : sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan kemana saja kau kehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ketempak yang tidak engkau kehendaki.

Ternyata apa yang Yesus sampaikan diatas dapat kita pahami lebih dalam bila kita lihat pada perkataan-perkataan sebelumnya ….” Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus : Simon, anak Yohanes,apakah engkau mengasihi Aku lebih dari mereka ini? Jawab Petrus kepadaNya :  Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa Aku mengasihi Engkau.  Kata Yesus kepadanya :  Gembalakanlah domba-domba-Ku. Ay. 15)

Pertanyaan apakah engkau mengasihi Aku pada ayat 15 tsb, adalah pertanyaan terpenting yang pernah dihadapi Petrus yang berarti apakah Petrus mempunyai kasih yang mengabdi bagi Tuhannya.  Dari referensi yg ada ada dua kata Yunani dipakai disini untuk “kasih”.Yang pertama, agapao berarti kasih yang rasional dan bertujuan, terutama dari pikiran dan kehendak.  Yang kedua,phileo melibatkan perasaan kasih yg hangat yang lazim dari emosi, jadi suatu kasih yang lebih pribadi dan penuh perasaan.  Melalui kedua kata ini  Yesus menunjukkan bahwa kasih Petrus jangan hanya dari kehendak saja namun juga dari hati, kasih yang timbul baik dari maksud maupun dari hubungan pribadi.

Pertanyaan Yesus kepada Petrus adalah pertanyaan yg penting untuk semua orang percaya. Tak terkecuali  saya.  Kita  semua  harus mempunyai kasih pribadi dari hati bagi Yesus dan mengabdi kepadaNya.

Ayat 16..kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya : “Simon, Anak Yohanes,apakah engkau mengasihi Aku ? jawab Petrus kepadanya : Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.”  Kata Yesus kepadanya : Gembalakanlah domba-dombaKu. Ayat 17: Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya : Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku ? Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya : Apakah engkau mengasihi Aku  dan ia berkata kepadaNya : Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu.  Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.  Kata Yesus kepadanya : “ Gembalakanlah domba-dombaKu.”

Ketika Yesus mengatakan … ” Gembalakanlah domba-dombaKu.”

Yesus menggambarkan orang percaya sebagai anak-anak domba dan domba-domba.  Ada 3hal tersirat dalam pernyataan ini :  yang pertama, kita semua membutuhkan perawatan pastoral.  Yang kedua, Kita senantiasa perlu makan dari Firman Allah. Dan yang ketiga, karena domba-domba cenderung berjalan mendekati bahaya, kita senantiasa memerlukan bimbingan, prlindungan dan teguran.

Lalu perkataan :  Apakah engkau mengasihi Aku ? Yesus memandang kasih sebagai syarat dasar dari semua pelayanan Kristen.  Memang diperlukan kualitas lainnya ( I Tim. 3:1-13 ), tetapi kasih akan Kristus dan sesama sangat..sangat..diperlukan ( IKor. 13:1-3 ).

Dari semuanya ini saya tahu bahwa hidup yang saya inginkan selama ini bukan yang Tuhan inginkan bagi saya.  Hari lepas hari Tuhan menunjukkan kepada saya arti sebenarnya dari sebuah kehidupan.  Dia memimpin saya dengan kasih dan kesetiaan dan Diapun ingin saya mengikutiNya dalam kasih dan kesetiaan-supaya saya bisa  melayani orang lain dengan kasih dan kesetiaan juga.  Selama 1 tahun penuh kami harus bolak-balik pelayanan 110km pada malam hari, terkadang dibawah guyuran hujan lebat dan angin kencang tapi tak pernah sekalipun kami alami persolan dijalan.  Mobil yang sudah tak baru lagi tapi tidak pernah satukali pun mengalami kebocoran ban ataupun kerusakan mesin.  Berbulan-bulan Tuhan memelihara kami dalam kasih dan kesetiaanNya. Untuk menunjukkan kedaulatanNya atas hidup kami.

Saya yang malam ini kedinginan ditengah kabut malam tak seharusnya selalu bertanya mengapa.  Sebab dibalik semuanya ini Tuhan punya grand planning for us.  Mungkin saat ini saya belum bisa melakukan banyak hal untuk pekerjaanNya tapi saya biarkan Tuhan membentuk saya hari lepas hari supaya sampai saatNya Dia boleh memakai saya untuk melayani sesama didalam pekerjaanNya sesuai kehendaknya dan rencanaNya.

Seorang sahabat menulis diblognya :

“Take the first step in faith. You don’t have to see the whole staircase. Just take the first step.” ( Martin Luther King Jr )

Oh ya, sahabat…walaupun mungkin terlambat, Selamat Tahun Baru…semoga ditahun baru ini kita dapat … “Take the first step in faith. You don’t have to see the whole staircase. Just take the first step.”

Salam.