Tag

, , ,

Tulisan ini saya buat pada tanggal 11 Oktober  2011, hari Selasa, sebagai usaha terus menerus demi komitmen saya utk belajar menulis tiap-tiap hari. (Saya membuat jurnal untuk maksud ini).

Kalau bakuomong tentang komitmen untuk terus menulis, susah-susah gampang.  Susah karena dibutuhkan tekat dan niat yg kuat plus disiplin.  Gampang karena saya bisa tulis apa saja dengan bebas tanpa  ada yg marah, sebab saya menulisnya diblog pribadi.he..he..he.. Lalu membayangkan  kalau tiap – tiap hari saya bisa membuat satu tulisan, itu amazing.  Namun bila harus  menyediakan waktu minimal dua atau tiga jam duduk didepan komputer suka atau tidak suka mood atau tidak mood, baca,pikir, renungkan, mengedit,  mengetik, cari referensi, saya tersiksa. Bagi yg punya bakat lebih itu hal mudah, tapi bagi saya tidak.  Ini akan sulit. Tapi kata orang bijak, bakat hanya 10% selebihnya niat dan praktek atau latihan. ( Semoga itu berlaku juga bagi saya).  Namun yang saya tau bahwa apa yang saya lakukan hari ini pasti akan ada manfaatnya nanti.  Walau awalnya memang susah, tapi lama-lama akan terasa juga gunanya.

Saya berharap (semoga) akan ada satu tulisan tiap hari entah layak dibaca atau tidak,  lalu sebulan berarti 30 tulisan dan setahun akan dapat 360 tulisan.

( Saya tidak benar-benar yakin akan ide 360-an tulisan dalam setahun tsb. he..he..he…) tapi tentunya ada hal baik yang bisa dilatih dan dipelajari dari aktivitas ini. Lalu kemudian  karena sering berlatih mungkin setahun kemudian saya akan dapat menulis dengan lebih baik, lebih cepat, lebih teratur, dan lebih benar.  Itu harapannya.

Mengenai komitmen, saya ada satu cerita : beberapa waktu yg lalu saya sering ikut saudara-saudara saya mencari dan membeli bunga atau tanaman hias untuk rumah baru mereka.  Lalu beberapa bulan kemudian ternyata kata yg tepat untuk aktivitas itu berubah menjadi berburu bunga.  Sebab ternyata mereka adalah para maniak bunga yg kronis,flower freak,khususnya Oma, mungkin sudah jadi penyakit. Kalau datang kumatnya, maka tak perduli hujan,badai, panas terik.  Seluruh tempat jualan akan dijelajah untuk dapatkan  yang mereka mau. Bahkan terkadang mereka berburu bunga atau tanaman hias ini sampai keluar kota.  Rumah mereka sudah seperti hutan, saking banyaknya bunga yang ada disitu.
Pada waktu itu, saya anggap mereka adalah org-org “gila” yg membelanjakan uangnya pada hal yg tidak penting.  Bagaimana tidak, uang banyak dihabiskan hanya untuk bunga. Pagi,siang malam ngurus bunga, pulang dari mana-mana yg mereka cek adalah bunganya.  Pergi kemana saja, berkunjung kerumah saudara atau teman selalu melirik ke tamannya kalo-kalo ada koleksi yang menarik yg belum mereka punya.  Bahkan seorang saudara saya sepulang bertugas dari Jakarta, yang dia bawa dikopernya bukan tas, sepatu atau t shirt sebagai oleh-oleh melainkan potongan stek batang bunga.  Benar-benar gila.  Saya adalah satu-satunya org yang sering kena omelan, perempuan kok tidak suka bunga.  Rumah kok tidak ada bunganya.  Saya bukan tidak suka akan ciptaan Tuhan yang indah itu, saya suka. Tapi masalahnya, saya tidak punya terlalu banyak waktu untuk hobi.

Sampai pada suatu waktu dikala mengantar mereka ke tukang bunga lagi, saya lihat ada satu bunga berbentuk unik, mungkin hasil silangan, yang menurut saya sangat elegan, cantik, berkarakter.  Dialah Sansevieria.

Saya suka bentuk daunnya yg terkesan kokoh tapi lembut, teksturnya yg unik, bentuk & warna hasil silangannya yg walau rada aneh tapi menarik.  Saya jatuh cinta pada pandangan pertama.  lalu kata tukang bunganya, “dia jenis yg mudah dirawat,tahan disegala cuaca, bisa diletakkan dimana saja, ditempat yang terkena sinar matahari langsung maupun untuk indoor, dan punya segudang manfaat”.  Saya suka yg seperti ini.  Okelah kalo begitu. Saya beli satu, bawa pulang kerumah lalu menanamnya.  Seminggu kemudian saya melihat bunga ini mulai tumbuh dan bertambah banyak kelopak daunnyanya. Saya begitu senang melihatnya dan mulai bersemangat untuk mencari variannya yg lain dan bersemangat menanam lebih banyak jenis bunga lagi, dirumah.  Sejak saat itulah saya mulai suka aktivitas tanam-mananam ini.   Dari situ saya tahu bahwa ternyata ada suatu kesenangan tersendiri tatkala melihat bunga yang kita tanam itu tumbuh, bertunas lalu akhirnya berbunga. Ada kepuasan tersendiri. O…la..la…..ini rupanya yang membuat saudara-saudara saya begitu tergila-gila pada bunga.

Hal Ini terus berlanjut sampai suatu saat saya mulai merasa ada suatu dorongan yang begitu kuat didalam diri saya untuk terus dan terus menambah jumlah bunga dirumah, walau sebenarnya yg saya punyapun sudah cukup banyak.  Pulang dari mana-mana yg harus saya cek duluan, bunga. Saya perlu tau apa gerangan yg terjadi dengannya hari ini.  Ketika pulang dari pelayanan malam-malam, capek, ngantuk, saya mesti sempat-sempatkan untuk cek sebentar kondisi bunga yang sudah saya tinggalkan beberapa hari tsb, takut ada yg kenapa-kenapa,  lalu mulai menyiram bunga-bunga tsb.malam2.  Mungkin sekarang saya yg dikira gila oleh tetangga2 saya.  Saya  menyadari bahwa akhir-akhir ini saya benar-benar telah menjadi “insane” karena bunga.   Jadi,  untuk menyelamatkan diri dari itu saya perlu satu kata : komitmen  untuk mengatakan cukup pada bunga.

Dari komitmen saya untuk mengatakan cukup utk bunga,  ( semoga benar-benar bisa… ) membuat saya ingin mengetahui arti kata ini lebih jauh lagi.

Komitmen berarti  janji, keterikatan, kewajiban, atau juga kontrak.  Jadi komitmen adalah perjanjian atau keterikatan untuk melakukan sesuatu janji atau juga kontrak yang telah dibuat atau disepakati.  Berkomitmen berarti berjanji untuk menepati, bertanggungjawab untuk menepati.  Sebaliknya, tidak berkomitmen / tidak punya punya komitmen bisa berarti tidak menepati janji, tidak bertanggung jawab, tidak konsisten, tidak setia, tidak  bisa dipercaya…..dll…dll.  Kita bisa menafsirkan lagi arti lainnya yg sejenis, seperti itu.

Dalam Bahasa Inggris pengertiannya dapat diartikan sbb :

  • The trait of sincare and steadfast fixty of purpose = suatu ciri dari ketulusan hati dan ketabahan untuk menetapkan suatu tujuan.
  •  The act of binding yourself ( intellectually or emotionally )  to a course of action =  suatu tindakan  yg mengikat dari dalam dirimu sendiri, secara intelektual maupun perasaan  yang dinyatakan dalam tindakan atau perbuatan. misalnya : allegiance          ( kesetiaan ), dedication (dedikasi ), atau  loyalty Contohnya  : Long committmen to public service ( komitmen yg panjang untuk melayani masyarakat ).
  •  An engagement by contract involving financial obligation = suatu ikatan karena kontrak yg melibatkan kewajiban keuangan yg tentunya harus ditepati atau dilunasi.
  •  A message that makes a pledge = suatu pesan yang menjadikannya suatu ikrar bersama
  • The official act of consigning a person to confinement ( as  in a  prison or mental hospital ) = seperti seorang yg bertugas menyerahkan seseorang dlm suatu pembatasan tertentu (seperti kedalam penjara atau rumah sakit jiwa )
  •  The act of committing, or putting in change, keeping, or trust, consignment =  yaitu tindakan untuk melakukan atau meletakkan perubahan, pemeliharaan, atau kepercayaan, atau meyerahkan atau mengirimkan sesuatu atau seseorang.

Bila kita belajar lebih jauh mengenai arti kata ini, maka akan kita temukan makna yang sangat luarbiasa dalam, sangat berharga dan tak ternilai untuk kehidupan kita.  Menelusuri apa yang ditulis didalam Firman Tuhan, saya mendapati bahwa kata komitmen ini (paling tidak), akan selalu terhubung dengan hal-hal berikut :

  1.  Tugas dan tanggungjawab yang diberikan.

“ Jadi sekarang pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umatKu, orang Israel untuk keluar dari Mesir”.

Ketika Musa diberi tanggungjawab besar untuk membawa bangsa Israel keluar dari mesir dari tempat perbudakan ketanah perjanjian, disini benar-benar diperlukan, dibutuhkan, dipraktekkan, dilaksanakan suatu komitmen yang tinggi.     ( o.o…bukan seperti komitmen saya pada bunga ).

Dari Musa dituntut suatu kesetiaan, dedekasi, pengorbanan, loyalitas, bayar harga, ketulusan, keberanian, dan fokus pada tujuan.  Tanpa itu…. bye-bye kebebasan, kemerdekaan.  Selamat tinggal tanah perjanjian and stay forever ditanah perbudakan.  Jadilah budak sampai selama-lamanya amin.

Kalau bercermin dari kehidupan Musa dan perjalanan bangsa Israel ini, kita coba berandai-andai, misalnya pemimpin-pemimpin negeri kita ini seperti Musa dalam hal komitmennya pada tugas dan tanggungjawab yg diberikan, saya pikir kitapun dapat berkata bye-bye penderitaan, selamat tinggal kemiskinan, gone with the wind hai kebodohan, masukkan saja itu koruptor dorang ke penjara-bawah tanah saja sekalian.

Diperlukan suatu komitmen dan kesadaran yg benar—benar sadar, yang lahir dari hati yang tulus untuk bisa mengerti bahwa mereka-mereka itu dipilih jadi pemimpin, bukan untuk melayani diri sendiri, golongan/partai sendiri, tapi untuk layani satu bangsa secara utuh.  Mereka dipilih untuk melayani negeri yaitu :  membuat yang bodoh jadi pintar, yg miskin dan melarat bisa hidup dgn  standar hidup yg layak, yg korupsi diadili, dihukum & kembalikan uang negara, dan moga-moga bisa sadar dipenjara , membuat prestasi olah raga negeri ini membaik, membuat Indonesia berdiri berdampingan dengan negara lain didunia dgn bermartabat, membuat perempuan-perempuan TKW di Malaysia & Arab tidak diperkosa, dipukul, disetrika, digantung, pulang mambawa anak berdarah bukan Indonesia. Membuat orang-orang tak berdosa tidak mati sia-sia karena perbuatan para pembunuh yg membunuh atas nama “kebenaran”.  Membuat kita-kita rakyat tak lagi mengomeli, memaki-maki, menyumpahi, mengutuki mereka sebagai pemimpin, dan lebih menyukai seandainya kita jadi warga benua Eropa atau Amerika saja, yg sepertinya lebih menjanjikan.  Tugas dan tanggungjawab mereka adalah bekerja, berupaya, mengusahakan, dengan segala sumber daya yg ada, yg mereka punya : jabatan, wewenang, ilmu, power, kekuasaan, untuk berbuat baik bagi negeri ini. Untuk mengusahakan kesejahteraan bagi rakyat yg telah mengangkat mereka, bukan sebaliknya.

Ah, seandainya bisa begitu………………

2.  Komitmen selalu berhubungan dengan kewajiban untuk taat melakukan perjanjian atau peraturan yg telah disepakati.

Kalau kita pelajari Kitab Keluaran dan juga Kitab Imamat kebanyakan disana dijabarkan tentang berbagai regulasi, yang ditetapkan untuk dilaksanakan Bangsa Israel.  Ada regulasi ttg korban bakaran, korban sajian, korban keselamatan, larangan-larangan, peraturan ttg pentahbisan imam, larangan ttg minuman keras bagi iman yg menyelenggarakan kebaktian, penetapan hari-hari raya, mengenai Tabut Perjanjian, mengenai Kemah Suci,mengenai Pakaian Imam,Pernikahan yang kudus, Penebusan Tanah, Perlakuan terhadap orang miskin, dan masih banyak yg lainnya lagi.

Untuk menjadi diberkati, dilindungi, disertai, dipelihara, diberi kemenangan, maka orang Israel harus taat, setuju, berkewajiban, setia untuk melaksanakan regulasi-regulasi tsb.  Ketika mereka tidak taat, tidak setia, tidak bertanggungjawab, tidak bersedia untuk melaksanakannya maka sakit penyakit, malapetaka, kehancuran, tanah terbelah dan menelan yg memberontak, 40 thn berputar-putar di seputaran padang gurun saja, dipukul kalah oleh musuh-musuhnya, mengalami berbagai-bagai pencobaan dan penderitaan. Kecelakaan dan malapetaka menimpa mereka.  Kita lihat bahwa akibat dari ketidaktaatan mereka, mereka menerima konsekwensi yang buruk.

Belajar dari kehidupan bangsa ini, kita seharusnya mengerti bahwa didalam hidup ini, komitmen untuk taat pada suatu perintah atau peraturan adalah hal yang sangat penting.  Tapi nyatanya tidak banyak orang mengerti akan hal ini.  Mereka telah dibutakan dengan ilah-ilah jaman ini, yang sangat mengutamakan keangkuhan hidup, kesombongan,ego, pemberontakan, iri dengki, amarah. Padahal itu semua seperti jerat yang perlahan tapi pasti akan menyeret mereka pada kehancuran. Lalu bagaimana dengan para pemimpin dinegeri ini ? adakah mereka bertanggungjawab dan taat melaksanakan dengan benar segala peraturan yang telah dibuat dan ditetapkan ?

Kalau berbicara tentang tanggungjawab untuk berlaku taat pada aturan yang berlaku maka saya rasa khusus dinegeri tercinta ini, itu menjadi prioritas kesekian dari para pemimpin.  Coba saja lihat cara para aparat penegak hukum bekerja.  Yang benar dibuat salah dan yang salah djadikan benar.   Hukum diinjak-injak dan keadilan diputarbalikkan.  Firman Tuhan berkata :  “ seharusnya mereka merasa malu sebab mereka telah melakukan kekejian, tetapi mereka sama sekali tidak merasa malu dan tidak kenal noda mereka.  Sebab itu mereka akan rebah diantara orang-orang yang rebah, mereka akan tersandung jatuh pada waktu mereka dihukum…”

3.  Komitmen selalu mengandung unsur kesetiaan.  Pada seseorang, atau sesuatu hal.

Musa setia kepada Allah.  Karena itu ia rela memikul tanggungjawab besar seorang diri untuk memimpin umat yang sebegitu banyaknya.  40 tahun sama sekali bukan waktu yg cepat untuk menyangsikan seberapa besar kesetiaan Musa pada Allah. Dalam kesetiaannya menjawab panggilannya sebagai pemimpin bangsa Israel dalam situasi dan kondisi seperti saat itu, komitmen Musa tak perlu dipertanyakan lagi.

4.  Berhubungan dengan janji.

Musa menerima janji, mempersiapkan diri untuk melaksanakan janji , melatih diri, bertahan dalam proses, menghadapi dan menaklukan tantangan, mengatasi penolakan, menyelesaikan pemberontakan, mengatur ribuan kepala yg masing-masing punya pemikiran sendiri-sendiri, menghadapi keadaan kehabisan logistik, menghadapi persoalan besar kebebalan dan ketidaktaatan org Israel pada Allah dan pada pemimpin,    Semua dihadapi Musa, sebab ia telah berpegang pada, hold on, terhubung dengan JANJI. Janji Allah pada dirinya dan janji Allah bagi Israel.

5.  Komitmen akan terbukti dengan berjalannya waktu.

Tanpa itu bukanlah disebut Komitmen. Berputar-putar 40 tahun dipadang gurun memimpin jutaan orang orang Israel yg tegar tengkuk & kepala batu ? sampai akhir hayatnya, bahkan hanya melihat Tanah Perjanjian saja tetapi tidak masuk kesana, tapi diterimanya dengan tulus hati ? Sungguh tak semua org mampu, tanpa sebuah Komitmen yg sungguh-sungguh untuk taat dan setia pada Allah.  Waktu telah membuktikan komitmen Musa pada janjinya. Ia termasyur, terkenal, dikenang sebagai “ a most gentle and patien man under the sun”.

“…..baik sekali perbuatanmu itu hai hambaku yang baik dan setia…..”

“ Lalu matilah Musa Hamba Tuhan itu ditanah Moab,dan dikuburkan di lembah Moab,  sesuai dengan Firman Tuhan.  Musa berumur 120 tahun ketika ia mati, matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang.”

Komitmen Musa tidak diragukan. Bagaimana dengan Yusuf ? Yosua, Kaleb, Gideon, Rasul Paulus, Timotius, Sadrak Mesak dan Obednego di Goa singa.  Saya tahu bahwa komitmen mereka-mereka ini tak mungkin diganggu-gugat lagi.  Saya terkagum-kagum ketika membaca riwayat kehidupan, pelayanan dan karier mereka.  Mereka adalah pahlawan-pahlawan Allah yang sangat luar biasa.  The real Hero pada jamannya.  Lalu bagaimana dengan kita dijaman ini? Masih adakah orang yang berkomitmen setinggi, sedalam dan seluas yang mereka tunjukkan?

Akhirnya dari semuanya dapat saya simpulkan bahwa Komitmen adalah satu kata bermakna sangat dalam.  Sebab ketika kita bicara ttg komitmen maka disana terkandung makna kesetiaan, tanggungjawab, dedikasi, disiplin, ketulusan, kejujuran, berani, bayar harga, fokus, integritas,tidak kompromi, taat.

Apa manfaat karakter ini bagi hidup kita ? ini jawabannya.

Dengan komitmen kita akan :

  • Mendapat perlindungan, penyertaan, perkenanan, kesuksesan dan promosi.       ( Seperti Yusuf )
  •  Ketaatan kepada pemimpin membuat kita dapat menyerap gaya kepemimpinan yang baik dan benar berguna dalam menjalankan tugas yg akan diberikan bagi kita.  ( Yosua belajar dari Musa )
  • Kesetiaan merupakan saat persiapan untuk tongkat kepemimpinan dimasa depan.  Karena pelatihan dan pendidikan rohani yang diberikan oleh pemimpin yang baik akan tercermin dalam cara-caranya mendidik dan melahirkan pemimpin baru. ( cara Musa didik dan dilatih mempengaruhi caranya mendidik dan mempersiapkan Yosua )
  • Membentuk kita menjadi pribadi yang punya integritas, berani, setia, optimis, mempunyai ketetapan hati, tidak risau dengan apa kata orang tetapi fokus pada tujuan, tegas tapi penuh kasih, disiplin, dan berhasil ( seperti PM Yusuf yang handsome, bijaksana, pemaaf, briliant )
  • Komitmen akan mengikat kita dan menuntut pertanggungjawaban kita terhadap Pencipta dan sesama.
  • Kita dapat melahirkan karakter yang sempurna : setia, tepat janji, stabil secara rohani dan jasmani. ( Yosua dan Kaleb do it )
  • Dalam kepemimpinan orang yang punya komitmen ia akan memberi rasa aman pada masyarakat-nya, sehingga ia dihormati, dikasihi, dicintai dan disukai.  Ia akan memimpin dengan penuh wibawa.

Terakhir, coba pelajari kisah hidup Gideon Pahlawan Allah yang gagah berani, disana kita akan temukan bagaimana orang ini mempertahankan komitmennya.  Gideon memerintah selama 40 tahun sebagai hakim yg adil. Dia dicintai, dihormati dan dikasihi bangsanya.    Gideon punya komitmen untuk taat dan menghormati Tuhan dalam tugas dan tanggungjawab yg diembannya.  Bahkan ketika bangsanya memintanya : “Biarlah engkau memerintah kami, baik engkau baik anakmu maupun cucumu, sebab engkaulah yang telah menyelamatkan kami dari tangan orang Midian, Gideon tidak lupa daratan.  Dia tahu siapa yang mengangkat dia.  Komitmennya memberi penghormatan hanya kepada Allah dan tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan, tidak rakus jabatan.  Maka jawab Gideon kepada mereka : “Aku tidak akan memerintah kamu dan juga anakku tidak akan memerintah kamu tetapi Tuhan yang memerintah kamu…”

O em ji, …..seandainya dijaman ini, atau dikota saya ini ada orang yg seperti Gideon, mungkin rakyat dinegeri ini tidak menderita seperti sekarang.  Tapi itu kalau kita berandai-andai, wong sekarang saja pemimpin malah disuruh turun sebelum habis masa jabatannya, didemo terus terusan, dicemooh, dimaki-maki, dibakar habis foto-fotonya, diteriaki maling terus, keluar masuk bui, maksudnya sementara mimpin kedapatan “nodanya” dimasukin sel lalu bebas lagi, lalu calonkan diri lagi untuk jadi ini itu, hal biasa dinegeri kita……….+)(&*&^%$#@!!!

Belum pernah ada seorang pemimpin yang diminta selamanya terus mimpin, termasuk anak, bahkan sampai cucu2nya-seperti yang dialami Gideon dimasa pemerintahannya.  Sebab Gideon adalah hakim yang adil. Gideon punya hati yg tulus untuk melayani bangsa. Gideon berkomitmen untuk memberikan penghormatan tertinggi hanya pada Allah,bukan pada dirinya sendiri. Karena itu kekuasaan, materi, kehormatan, sanjungan, menjadi tidak penting lagi.

Bukan aku yang memerintah kamu dan bukan pula anakku yg akan memerintah kamu, tetapi TUHANlah yang memerintah kamu.”

Bravo Gideon, “ Tuhan menyertai engkau hai pahlawan yang gagah berani”.

Doakan, harapkan, usahakan……moga-moga kita punya pemimpin-pemimpin seperti Gideon, Moses, Yusuf di negeri ini….bila tidak…………… :

  • Mungkin kita hanya berputar-putar saja “dipadang gurun” selama 40 taon  seperti bangsa Israel,
  • dihukum Tuhan,
  • malapetaka,
  • bencana,
  • kemunduran,
  • Akhirnya “Mati” dengan mentalitas Mesir – be enslaved / diperbudak.

friends, don’t let it happen !