Seperti Jabez…..


  • Senin, 3 Oktober 2011

Sebenarnya sudah dari lama saya ingin punya notebook baru.  Yang  bukan untuk dipakai gabung dgn pekerjaan pelayanan.  Jadi sebisa mungkin berhemat untuk bisa sisihkan sedikit uang untuk mendapatkannya.  Tidak yang terlalu besar, ringat, nyaman dan mudah dibawa & lengkap.   Jadi setelah dananya berasa cukup mulailah saya ber-hunting ria.  Setelah cari, cek, bandingkan, liat sana-sini – ini – itu, ketemulah yang dicari dgn spesifikasi yg sesuai kebutuhan.  Thank’s God.  Waktu hendak  pulang tiba2 ada segerombolan anak muda yang mendekati saya.  Saya kaget mulai was-was.  Namun ternyata mereka hanya mendekat untuk minta uang buat beli rokok, katanya.  Setelah dapat yg diperlukan, dengan santai mereka pergi, lupa bilang terimakasih dan tak perduli pada saya yang sedikit jengkel, karena telah ditahan, hanya untuk minta uang beli rokok.

Biarkan saja mereka. Sudah biasa itu… Tapi lalu saya berpikir.  Mengapa anak-anak muda yang kuat,sehat,tidak cacat seperti mereka mau,rela,suka,tak malu meminta uang pada orang yg tidak dikenal, dijalan, dilihat banyak orang, hanya untuk beli sebatang rokok ?   mengapa mereka tak malu lakukan hal minta-minta- pajak- istilah yg mereka pake.  Mabok,benar-benar tidak punya, sudah adatnya, kebiasaan, jadi budaya, habits atau……..?

Seandainya mereka mau kerja apa saja yg penting halal dan tidak bermalas-malas, tentu tak perlu pura-pura mabok hanya untuk uang beberapa rupiah.  Tapi itulah kenyataannya.   Ya,walau tidak semua, tapi ada begitu banyak anak-anak muda usia produktif disini yang berlaku begitu.  Saya pulang rumah dgn notebook baru ditangan tapi juga membawa rasa sedih dihati melihat & membayangkan anak-anak muda tadi. Kasihian mereka.  Sering duduk kumpul-kumpul dijalan, atau ditempat-tempat  tertentu dengan  botol minuman keras disamping. Melihat org lewat lalu malak. Tidak jarang saling pukul dan tusuk.  Tanggungjawab siapa mereka?  Dirinya sendiri ? orang tua? sekolah, gereja, pemerintah ?

Saya pikir mungkin mereka adalah sekumpulan anak muda yang frustasi, atau kecewa dgn kehidupan mereka.  Rata-rata mereka tidak punya pekerjaan tetap, putus sekolah, tidak punya pendidikan yg cukup dan berasal dari keluarga yg kurang mampu secara ekonomi.  Atau ada juga yg mampu tapi bermasalah.  Rata-rata mereka beranggapan bahwa keadaan dan kenyataan hidup yg mereka alami menyakitkan.  Membuat mereka kecewa dan frustasi.  Tapi kalau karena itu mereka frustasi dan kecewa, bukankah semua kitapun bisa seperti itu.  Kan semua kita punya masalah dlm hidup. Cuma cara kita menghadapi atau menyelesaikan yg beda.

Waktu membersihkan rumah kemarin saya menemukan beberapa cacatan, saya baca lagi beberapa.  Satu diantaranya ada hubungan dgn hal diatas : ada kisah ttg seorang anak laki-laki yang kehadirannya ditolak orangtuanya karena kelahirannya tak pernah diinginkan.  Disebut dgn istilah “nobody’s Child” Mungkin ia adalah korban – anak yg lahir diluar nikah.  Namanya Steven Paul Jobs.  Ia lahir di San Fransisco pada tgl. 24 Pebruari 1955.  Ia diadobsi oleh keluarga Jobs, sementara ayah kandungnya adalah seorang syria dan ibu kandungnya yg orang Amerika membuangnya.  Saat ini Steve Jobs adalah CEO    ( Dirut ) Apple Incorporated, produsen ipad, iPhone,iTunes,iPod & Macbook.  Ia juga menjadi petinggi di Pixar Animations Studio & The Walt Disney Company.  Steve Jobs yg salah satu pelopor komputer dunia dlm karirnya pernah berhenti sebentar sebagai CEO Apple, mengambil cuti karena mengidap kangker pankreas.  Ia sempat mendirikan Apple diusia mudanya namun ia sempat dikeluarkan, dan akhirnya ia kemudian bisa membeli kembali Apple dan memimpinnya hingga sekarang.  Sebenarnya Steve juga bisa  duduk meratapi nasib, lalu stress depresi, hidup dijalan mabuk-mabukan dan hancur tak bisa terima kenyataan ttg nasibnya sebagai seorang anak yang dibuang dan diadobsi. Tapi bukan itu yg dilakukan.  Ia yg DO dari tempat kuliahnya namun karya-karyanya di Apple diakui & dinikmati banyak orang sampai saat ini.
( Sebelum tulisan ini dimuat diblog berita dikoran tgl 8 Oktober memberitakan Steve Job meninggal. Tapi ia telah meninggalkan karyanya yang sangat yang luar biasa yang sudah membantu dan menolong orang banyak dlm pengembangan dan kemajuan tekhnologi dunia). Terimakasih Steve.
Saya teringat lagi, ada sorang pria lain bernama Yabes. Namanya dicatat dalam I Tawarikh 4:9-10.  Walau 9 pasal pertama dari I Tawarikh berisi daftar silsilah dgn lebih dari 600 nama namun ada hal yang sangat menarik tercatat disana.   Persis ditengah ratusan nama-nama dan susunan silsilah yang begitu banyak dan padat, kita harus berhenti sejenak dan harus terpana karena ternyata rekaman peristiwanya menunjukan disitu bahwa Allah telah memberikan pengakuan khusus hanya kepada Yabes.  “ Yabes lebih dimuliakan (diakui keberadaannya, dihormati dan diberi hormat, disanjung, dipuji, diakui eksistensinya ) lebih dari saudara-saudaranya yg lain. Padahal background hidupnya tidak jauh beda dgn kita.  Lihat saja :  maksud  ibunya beri dia nama Yabes karena kata ibunya : “aku melahirkan dia didalam kesakitan”.  Jadi arti dari nama Yabes adalah kesakitan.  Bagi orang Israel pada jaman itu –mungkin sampai saat ini, sebuah nama punya arti yang penting.  Dengan memberi nama kepada anaknya, harapan orang tuanya kelak anak tersebut akan hidup sesuai arti namanya.  Nama dan memberi nama kepada seorang anak disana menjadi suatu hal yang sangat penting.  Setiap nama yang diberikan punya arti. Para orang tua selalu akan memilih dan memberikan nama yang baik kepada anak-anaknya. Daniel berarti God is my judge-Allah yg menjadi hakimku. Lihat saja bagaimana kehidupan Daniel yg dicatat Alkitab.  Petrus sang batu karang, Yohanes si lembut hati, Naomi berarti pahit, dll.

Sebaliknya Yabes mendapat sebuah nama yg berarti kesakitan.  Bisa dibayangkan kemana-mana dia diapanggil dengan arti  itu.  Dilingkungan mana saja dia pergi dia dikenal sebagai si sakit atau kesakitan atau yg mengalami kesakitan.  Setiap hari setiap saat diantara teman-temannya, kaum keluarganya dia dipanggil, disebut, dikenal dengan sebutan itu.  Apapun yg dia lakukan, apapun yang dia perbuat orang akan mengenalnya sesuai arti namanya.  Sesuai kata ibunya : saya melahirkannya didalam kesakitan.  Pikir kita kan setiap ibu yang melahirkan pastilah akan alami kesakitan.  Tapi mengapa hanya ibu Yabes yg memberi nama kesakitan itu pada anaknya.  Mengapa ibu – ibu lain tidak ?  Mungkin kalo kita mau artikan lebih jauh kesakitan yang dimaksud disini bukan kesakitan normal seperti yg biasa dialami waktu seorg ibu akan melahirkan.   Kesakitan yang dialami ibu Yabes bukan kesakitan fisik biasa.  Kemungkinan ada sesuatu didalam psikis dan jiwanya yg mengalami tekanan berat dan kesakitan pada saat itu.  Karena tidak banyak referensi lain ttg itu di Alkitab-hanya 2 ayat saja yg ngomong ttg Yabes jadi kita tidak bisa tahu lbh banyak ttgnya.

Namun yang jelas, ada cukup alasan bagi Yabes untuk kecewa dan putus asa melihat kenyataan hidupnya.  Tapi Alkitab tidak mencatat bahwa ia kecewa, putus asa, depresi stress, lalu mabuk-mabukkan, hidup dijalan, mengasihani diri, tidak bisa lagi berbuat apa –apa, untuk hidupnya dimasa depan.  Lalu yang tak kalah  menarik tentang dia ini adalah, tidak disebutkan Yabes memiliki bakat atau kemampuan istimewa lbh dari yg lain. Dia sama, rata-rata, standar kayak yang lainnya, bahkan mungkin dibawah-mengingat arti namanya tadi dan akibatnya. Kedua, ia bukan orang kaya atau lahir dari keturunan orang berpunya.  Ketiga tidak ada catatan yang menuliskan ia seorang terpelajar atau memiliki pendidikan tinggi atau dikarunia bakat atau skill tertentu.  Yang ada adalah arti namanya dalam bahasa Ibrani hanya berarti menyakitkan.  Dari hal-hal minus tsb. ternyata akhir jalan hidup Yabez menunjukkan arah yg up side down dgn arti namanya. Alkitab mencatat bahwa  ditengah penderitaannya, ditengah tekanan berat kondisi & latar belakang kehidupan ibunya waktu mengandung dan melahirkan dia, ditengah lingkungannya yang memberi banyak tekanan dan persoalan, ditengah kehinaan dan derita,  Ia berseru kepada Allah. Ia minta Allah menolong hidupnya, Ia mohon Allah mengangkat kehinaan dan deritanya,

….Please bless me and give me a lot of land.  Be with me so I will be safe from harm…..

Dan Alkitab mencatat, Allah berkati Yabez dengan berlimpah. Tanahnya diperluas. Kekuasaannya diperkuat.  Karirnya diangkat.  Hartanya bertambah.

He was still the most respected son in his family.

God did just what Jabez had asked.

Apa sebabnya ? How come ?

Pertama dan yg utama…because he prayed to God.  Sebab Ia berdoa kepada Allah. Ia tidak menyalahi ibunya karena melahirkan dia dlm keadaan yg kurang baik, tidak protes karena memberinya nama kesakitan, tidak kecewa, frust dan marah pada keadaan dan kenyataan hidup didepan mata ini.

Dalam tafsiran lain :

Dikatakan bahwa permintaan Yabez dalam doanya kepada Allah, adalah permintaan yg standar, pada umumnya, bukan sesuatu yang istimewa bagi orang lain yg bernasib baik, lebih beruntung, dari keluarga yang baik-baik, yg hidup dalam kondisi yang serba baik. tapi bagi Yabes ini merupakan harapannya, tujuannya, obsesinya. Tanpa ini dia pasti mati dalam keadaan terhina, tidak bermartabat, rendah.  Jadi dengan segenap hatinya, dengan segenap jiwanya, ia berseru, berteriak, minta, menuntut, menjerit kepada Allah, sebab hanya Allah yg bisa mengangkat martabat mc dari kehinaan, penderitaan, dan kehancuran  :

  1. Bless me indeed ( berkatilah saya )
  2. Enlarge my coast ( perluas batas/kapasitas/teritory saya )
  3. Let Your hand be with me ( Biarkan tanganMU ada diatas saya/ sertai saya )
  4. Keep me from evil  ( Lindungi saya dari hal jahat )
  5. Keep me from grief ( lindungi/lepaskan saya dari malapetaka )

Ini menunjukkan bahwa kitapun punya kesempatan untuk bisa melakukan hal yg sama, sebab Diapun mendengar seruan dan doa kita  for He is no respecter of person.  Karena Allah tidak memandang muka.

So, kalau Dia tidak memandang muka berarti ……..mengapa kita tidak berpaling dari keadaan kita yang hancur dan berseru seperti Jabez kepada Allah yang hidup, yang tidak memandang muka, yang mendengar seruan orang yang berdoa dari kedalaman hatinya ?

Padahal  Ia mendengar seruan orang yang berseru dari jurang penderitaan. Padahal  Ia tidak memandang muka.  Padahal ia berbelaskasihan kepada orang-orang yang menderita ?

Mari awali semuanya dengan Doa.  Yabez do it, and he get it all.

Mungkin anak-anak muda yg saya temui dijalan itu mewakili banyak anak-anak lainnya yg juga depresi dan kecewa pada keadaan dan kenyataan hidup yg mereka punya.  Berdasarkan data yang ada, tinggkat penggangguran didaerah kami cukup tinggi.  Jumlah yang putus sekolah tidak sedikit.  Lapangan kerja tidak banyak.  Kwalitas pendidikan ? lihat saja prosentasi jumlah kelulusan.  Biaya pendidikan ternyata mahal.  Pendidikan gratis hanya slogan kampanye.

Mungkin keadaan kita memang seperti itu saat ini, tidak banyak yang bisa kita harapkan dari pemerintah, banyak sekali masalah yang harus diselesaikan dinegeri ini.  Sehingga menaruh tanggungjawab itu pada mereka rasanya tidak sepenuhnya mungkin.  Lalu kalau begitu apakah yang bisa kita lakukan hanya melihat kenyataan pahit dan kecewa lalu putus asa dan lalu hanya pasrah dgn keadaan, dan lalu hanya duduk-duduk dan mabuk-mabukan tanpa bisa berbuat apapun untuk hidup kedepan?

Bukankah Yabespun mengalami hal yg sama seperti kita, Steve Jobs ? pada intinya setiap orang siapapun kita punya masalah dalam kehidupan.  Siapa yang tidak ?

Kalau Yabes bisa mengubah keadaan, Steve Jobs bisa terima keadaan diri, kalau orang-orang lain disekitar kita yg punya masalah yg sama tapi bisa menghadapi dgn cara berbeda kenapa kita tidak ? mengapa anak-anak muda yg saya temui tadi tidak ?

Ah…memikirkan  kawan-kawan kita tadi saya akhirnya  jadi mempertanyakan tentang tanggung jawab sosial banyak pihak, termasuk sayalah.  Kita yang suka menyerukan tentang kasih, pengorbanan, iman dalam perbuatan, tapi bagaimana tanggungjawab sosial kita ? Hanya soal seputar tembok-tembok kita saja, dan tidak mau melihat keluar sedikit ? hmmmmmmmmm…… Sayapun jadi pusing.  Jadi, saya cukupkan dulu tulisan hari ini, lagipula sudah larut, saya harus tidur.  Capek hampir seharian bersih-bersih.

Walau disarankan tidak usah makan banyak malam-malam begini, saya tetap harus habis kan  nasi goreng yg tersisa.  Jangan minum yg bersoda dan ada kafein, air putih saja kalau mau nyenyak. Saya setuju.

Semoga apa yg saya temui hari ini jadi pelajaran berharga buat hidup dan pelayanan.  Sebagian sudah sudah saya catat disini so,I’ll stop for now,besok baru disambung.

Good nite…….. God Bless.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.