November


4 Nopember 2011

Seorang bapak yg bertugas menjaga dan membersihkan tempat pelayanan kami di TTS  bercerita kepada kami beberapa waktu lalu.  Lebih tepatnya dia mengeluh ttg ketidak jelasan nasibnya sebagai tenaga honorer selama 6 tahun lebih yang belum juga diangkat-angkat.  Dengan uang honor 800ribu rupiah perbulan, terkadang dibayar 3 bln sekali, itupun sering tidak utuh, harus dicicil pembayarannya, sebagian besar dari gajinya habis untuk ongkos transport, sisanya untuk makan hari-hari,bahkan terkadang tak cukup, beruntung  ia punya sebidang tanah kecil disamping rumahnya tempat ia menanam ubi dan pepaya, yg bisa dia makan  kala sudah tidak ada uang lagi untuk beli beras dan laukpauk.  Keadaan ini membuat ia sering uring-uringan, stres, marah dan kecewa.  Kecewa pada pemerintah yg katanya tidak benar-benar mau memperhatikan nasib mereka padahal mereka sudah dipakai dan disuruh sana sini, kerja ini-itu, sudah lakukan tanggungjawabnya selama 6 thn, dgn keadaan tidak jelas.  Waktu mengeluhkan nasibnya pada kami, tanpa maksud menyudutkan saya tanya sama bapak tsb. “Kalau seandainya sampai tahun ke7, ke8,ke10 SK pengangkatannya tidak datang-datang juga, apa yang akan bapak lakukan?”  Dia jawab : “mungkin tahun depan saya pulang kampung saja, bertani dan berkebun. Aman toh, tidak lagi harus stres menunggu !”  Saya merenung sejenak tentang keadaan bapak ini, tentang ketidakjelasan nasibnya tsb,   lalu berpikir seandainya saya seperti dia, apa yang akan saya lakukan ? apa memang dia rela  pulang kampung jadi petani atau itu solusi yg dia buat karena marah, kecewa dan sakit hati ?

Dari yang saya tahu mungkin apa yg dia alami  merupakan dampak akan diberlakukannya  moratorium penerimaan Pegawai Negeri Sipil ( PNS ) oleh pemerintah sehingga mereka-mereka yg seharusnya sudah diangkat mengalami penundaan karena perlu disesuaikan dgn peraturan baru.  Regulasi yang berubah-ubah inilah penyebab ketidakjelasan nasib bapak itu.  Alasan diadakannya regulasi Moratorium ini disebabkan karena belanja PNS saja di Indonesia telah mencapai angka fantastis, Rp. 215 triliun /thn. Jadi kira-kira 18-an triliun perbulannya. Sementara belanja modal masih Rp. 168 triliun/thn.  Kalau memperhatikan data yg ada maka 75% APBN hanya digunakan untuk belanja pegawai saja.  Para wakil rakyat melihat bahwa itu pemborosan bila angka sebesar itu hanya dipakai untuk mengurus pegawai di negeri ini saja dan bukan utk mengurus rakyat.  Jadi tujuan dari moratorium yg segera akan diberlakukan tsb. supaya pengalokasian dana untuk kesejahteraan rakyat perlu lebih ditingkatkan bukan hanya untuk belanja pegawai.  Demikian alasannya. Karena itu menurut mereka sistem perekrutan pegawai perlu dibenahi.  Penerimaan pegawai di semua daerah di Indonesia  jangan lagi berdasarkan kepentingan saja tapi harus berdasarkan pada kebutuhan.  Para wakil rakyat tsb. menilai selama ini penempatan pegawai selalu berdasarkan kepentingan  saja sehingga mereka kebanyakan tidak bisa bekerja secara optimal dlm melayani masy.  kualitas mereka saat ini sangat rendah, sebab bekerja pada bagian atau bidang keahlian yg berbeda. Mereka ditempatkan karena kepentingan bukan ditempatkan karena kebutuhan keahlian tertentu.  Hmmmmmmm…..itulah pemerintah kita.

Sementara di kota saya sedang beredar  rumor bahwa rekrutmen honorer secara besar-besaran saat ini dilakukan semata-mata demi kepentingan untuk permulus suksesi 2012.  Dan lagi ketika ditanya mengenai hal ini, pihak Pemerintah Kota belum bisa memberi keterangan dgn jelas tentang hal itu sebab katanya masih melakukan pendataan tenaga honorer tsb. Benarkah ?

Yang menjadi maksud tulisan ini bukan uraian kebijakan pemerintah yg kabur diatas, yang membuat nasib bapak itu ikut kabur.  Urusan pemerintah harus diselesaikan pemerintah.  Bekerjalah sedikit lebih keras, sungguh-sungguh, murni.  Berkorbanlah sedikit untuk kepentingan rakyat bukan untuk kepentingan politik saja.  Sebab untuk itu bapak/ibu dibayar kan ?

Mari kita serahkan saja pada pemerintah untuk urus masalah masa depan tenaga honorer  karena itu memang tugas mereka dan saya akan lanjutkan saja maksud tulisan saya hari ini.

Tetap mengenai delay.  Beberapa waktu lalu ketika pulang mengikuti sebuah konfrens wanita di Bali, sendirian, capek, terburu-buru, karena harus segera berangkat ke SoE hari itu juga,pesawat yg akan saya tumpangi mengalami delay. 3 jam lebih.  Acara penutupan jam 12, saya berkemas 10 menit di hotel, ngebut ke bandara dari Sanur makan waktu hampir satu jam karena jalanan padat dan macet total, cekc in jam 1 nyaris terlambat, bawa koper, tas, peralatan lain,buku-buku, banyak,sendiri. minta ampun !  Sudah terburu-buru begitu, capek, antre, dengan harapan sampai Kupang sekitar jam 3 sore, lanjut ke SoE 2 jam setengah, jadi bisa tiba disana kemungkinan jam 6 sore, pasti pegal-pegal juga tapi tak apalah yg penting tiba tepat waktu.  Tapi kenyataan berkata lain, saya mendadak harus duduk manis 3 jam lebih menanti di bandara, tanpa buat apa-apa just waiting tunggu sa……….. karena DELAY…..menjengkelkan sekali ! Huh,  kalau tau begini mending refresing dululah atau jalan-jalan sebentar membuang penat.  atau kalau tau akan begini jadinya saya tak usah terburu-buru, seperti orang dikejar setan saja  tadi.  Dasar maskapai tak ber ………., sepertinya senang saja dia buat kita lari terbirit-birit lalu berhenti mendadak , bengong, tanganga, jengkel di bandara, 3 jam.  Kalau diluneg- dia wajib bayar denda buat saya, tapi kan ini di……………

Lalu membayang sore harus sudah sampai di SoE, harus ikut pelayanan disana, dan berpikir apakah orang-orang masih menunggu saya di Kupang atau harus berangkat sendirian ke Soe, …….saya pusssiiiiiinggggg………………&^%$#@!*(&*

Ya beginilah. Persoalan menunggu, menanti, delay ini merupakan perkara sulit dan menjengkelkan.  Penundaan akan sesuatu yg seharusnya sudah kita terima atau dapatkan menyebabkan seseorang menjadi marah, jengkel dan kecewa. Bapak penjaga diatas menjadi begitu kecewa karena penundaan seakan membuat segala sesuatu tentang masa depannya menjadi tidak pasti. Kabur.  Saya dibandara karena delay jadi stres, jengkel dan bingung tentang bagaimana mengatur waktu supaya bisa sampai ke Soe tepat waktu dengan tidak kurang satu apapun !

Benar, bahwa setiap mc perlu suatu kepastian dlm hidup, sebab tanpa kepastian kita bisa goyang, limbung, kabur, samar-samar, gelap, kita meraba-raba. Karena itu kita membuat program, jadwal, sistem, rencana, make a wish, buat resolusi, sekolah, belajar, berilmu, beribadah, bekerja, dll untuk mengejar kepastian atau sesuatu yg pasti.  Yang pasti-pasti saja deh ! begitu maunya kita.  Karena itu manusia selalu ingin mengejar, mencari, berusaha menemukan kepastian dan mengindari, meminimalisir, dan kalau bisa berusaha menghilangkan apa yg disebut penundaan atau delay atau ketikpastian. Padahal penundaan atau delay seringkali kita alami dalam hidup kita.  Menjadi bagian  dari kenyataan yg harus kita hadapi. Sebaik apapun usaha kita untuk menghindari, menjauhi, menghilangkannya tapi tetap saja terkadang hidup menghadapkan kenyataan itu pada kita.

Ada dua cara menghadapi penundaan, dilihat dari cara orang menanggapinya :

Yang pertama, orang yang tahu bahwa itu adalah bagian dari kenyataan hidup yang harus dihadapi dan diselesaikan dengan baik.  Orang – orang jenis ini adalah orang yang pada saat mengalami penundaan atau delay dalam karier, dalam usaha, dalam bisnis, dalam pelayanan, dalam bidang-bidang tertentu dalam hidupnya, ia tidak marah, jengkel, kecewa atau  sakit hati tapi malah dari kondisi itu ia melatih, memperlengkapi, mengusahakan, bekerja lebih giat lagi, mendorong diri lebih dalam lagi supaya lebih beriman dan berharap bahwa apapun yang terjadi, pasti ada maksud Tuhan yang baik dan mulia bagi hidupnya. Ia akan mengisi diri dengan bersikap lebih sabar,lebih tekun, lebih setia, lebih fokus, lebih tahan uji, lebih tulus, karena sesudah semuanya itu pasti  dia akan dapatkan hal-hal yang baik.   Sebab karakter, sikap, nilai kesetiaan, kesabaran, ketekunan, fokus, ketulusan,tahan uji  adalah harta yg sangat berharga dalam hidup, yang sangat mahal harganya dan tidak dapat dibeli dengan uang atau ditukar dengan materi.  Coba saja serahkan uangmu 100 juta pada seseorang dan mintalah ia memberimu karakter setia atau sikap sabar atau ketekunan, one hundred percent saya jamin dia kembalikan uangmu dan bilang bahwa barang yg ingin engkau beli….. tidak ada !  Temui saja orang-orang yang tahu bahwa penundaan adalah bagian dari kenyataan hidup dan yang menghadapi dan mengisinya dengan sikap-sikap emas diatas, lalu mintalah arahan, bimbingan dan advis dari mereka ttg hal tsb, lalu belajarlah melakukannya didalam hidupmu dan kamupun akan dapat memiliki karakter-karakter berharga tsb. sebab uangmu tak akan mampu membelinya. Berapapun jumlah yang akan engkau bayar.

Kedua, adalah orang yang menganggap bahwa delay atau penundaan adalah suatu malapetaka, suatu keadaan celaka, hal buruk yang tidak harus diterima.  Orang jenis ini sangat kecewa dengan keadaannya yg dihadapinya itu, marah, frustasi, patah semangat, lalu berakhir dengan mengambil keputusan menerima nasib, mundur dan kalah.  Sia-sialah tahun-tahun penuh pengorbanan yang telah dilalui sebelumnya.  Hilang sudah kesempatan menghasilkan karakter-karakter emas yang tak ternilai dengan uang, yang mungkin dapat dihasilkan seandainya ia mau bertahan, sabar, tetap setia, tetap bertekun dimasa-masa penundaan dan penantian itu.

Yusuf, harus menyelesaikan berpuluh-puluh tahun dalam proses penundaan sebelum akhirnya menjadi Prime Minister di Mesir.  Dia memilih bertahan dan menghasilkan karakter kesabarannya ketika menjadi gembala kambing domba ayahnya, berjalan bermil-mil jauhnya, dibawah panas terik dan hujan badai, menggiring ternak mancari makanan dipadang pengembalaan, menuruni lembah dan sungai mencari mata air untuk memberi minum kawanan ternaknya, lalu walau lelah dan capek ia harus membawa mereka kembali kekandang sore hari.  Didalam masa penundaannya, ia berlatih ketekunan didalam penjara melayani dan memperhatikan tawanan-tawanan lainnya, menafsirkan mimpi mereka dan melayani para pegawai penjara.  Berlaku setia terhadap Potifar dengan melaksanakan tugas dan tanggungjawab didalam pengurusan rumah tangga bosnya, dan berkomitmen untuk setia kepada Allah didalam menjaga kekudusan dan kesuciannya ketika menolak perbuatan zinah yang ditawarkan istri tuannya, walau dia orang muda, dengan segala keinginan masa mudanya.  Dia menghormati Allah, menghormati tuannya Potifar dan menaruh hormat pada dirinya sendiri.

Lalu setelah penundaan dan penantian yang begitu lama, dengan perilaku dan sikap yang telah dia hasilkan selama masa ketidakpastian tsb, memilih hidup setiap hari dengan melakukan karakter-karakter bernilai tinggi tsb. sendirian, tanpa sanak saudara, dinegeri asing.  Lalu setelah perjuangan panjang dan masa puluhan tahun dalam ketidakpastian, apakah Yusuf tidak menerima upahnya ?

Mengapa Yusuf berhasil melewati masa sukar – sulit itu, sedangkan ada orang lain yang tidak ?

Pertama, kita harus tahu bahwa hidup ini bukan semata-mata bertujuan memperoleh harta, kekuasaan atau kedudukan. Manusia tidak terdiri dari tubuh saja tapi juga ada jiwa dan roh.  Kalau yang kita utamakan hanya kehidupan untuk areal tubuh saja, maka materi, kekuasaan, kedudukan,uang, pangkat, jabatan jadi prioritas utama yang akan kita kejar.  Memang materi, jabatan, kedudukan penting juga tapi itu semua akan jadi bencana kalau kita mengutamakan itu lebih dari kepentingan jiwa dan rohani kita.  Kita akan kecewa, marah, depresi, stres,  hancur dan tidak berdaya ketika tidak dapat meraihnya.  Lain halnya kalau kita tahu bahwa kehidupan kita adalah juga untuk jiwa dan rohani kita, maka yang kita akan kejar dan usahakan atau utamakan adalah hal-hal yang akan memperkuat atau menghidupkan atau memperkaya jiwa dan rohani kita.  Sebab itu Tuhan minta kita untuk “kejarlah dahulu kerajaan Allah ( kasih, sukacita, damaisejahtera,kebaikan, ketulusan, kesetiaan, kelemahlembutan ) dan seluruh kebenarannya, maka semuanya itu ( harta,rumah,uang,kedudukan, jabatan, promosi, karir, pekerjaan ) dll. yg bersifat jasmani- AKAN DITAMBAHKAN KEPADAMU !

Yusuf mengerti prinsip ini, karena itu dia lebih mengutamakan, menghasilkan dan mengerjakan sifat-sifat dan karakter yang benar didalam hari-hari hidupnya.  Sebab karakter atau sikap atau perilaku yang baik ini akan memberi makanan bagi rohani kita dan akan  menjadi nutrisi bagi jiwa kita.  Sebetulnya itulah kehidupan yang sebenarnya.  Jiwa dan roh kita juga makmur, tidak hanya tubuh.  Itulah hidup yg diberkati itu.

Jadi bertahanlah, dan sabarlah.  Sebab sesuatu yg dihasilkan dari kesabaran dan ketekunan akan bernilai.

Tinggi.

God Bless !

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.