Bisakah kita menciptakan orang hebat dengan ancaman & rasa takut ?

Prof. Rhenald Kasali, Ph.D

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakanakan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Melahirkan Kehebatan

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.(*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

Posted from WordPress for Android

Langkah-langkah Penelitian Ilmiah

Perbedaan Metode Ilmiah dengan Penelitian Ilmiah

Metode ilmiah dan penelitian ilmiah, dua frase yang terkesan memiliki pengertian
sama ini ternyata memiliki perbedaan satu sama lain. Ada dua (2) hal paling tidak,
yang membedakan antara metode ilmiah dengan penelitian ilmiah. Perlu dimengerti
bahwa setiap penelitian ilmiah harus menerapkan metode ilmiah, akan tetapi setiap
metode ilmiah belum tentu penelitian ilmiah. Maksudnya begini, prinsip-prinsip yang
digunakan dalam metode ilmiah digunakan pula dalam penelitian ilmiah.

Adapun letak kedua perbedaan metode ilmiah dengan penelitian ilmiah, sebagaimana
telah disebut di atas adalah: (1) dalam hal rumusan masalah; dan (2) dalam hal cara
kerja pemecahan masalah. Mari kita uraikan satu persatu.

Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam metode ilmiah dapat berupa masalah yang sangat sederhana
atau masalah yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ketika hari hujan,
salah satu sudut lantai kamar di rumah anda menjadi menjadi basah.
Untuk menyelesaikan masalah sederhana ini anda tidak perlu melakukan penelitian ilmiah,
cukup berpikirdengan menggunakan metode ilmiah. Sebaliknya dalam penelitian ilmiah
rumusan masalah cukup kompleks sehingga membutuhkan kegiatan yang kompleks
pula untuk menyelesaikan/ memecahkannya. Dalam penelitian ilmiah anda harus
merancang instrumen untuk mengumpulkan data dengan benar, menganalisis data,
dsb. Melakukan penelitian ilmiah memerlukan waktu yang lebih lama, tidak cukup
hanya satu atau dua hari saja sebagaimana anda memecahkan masalah sehari-hari
yang sederhana melalui metode ilmiah.Contoh masalah penelitian ilmiah yang cukup
kompleks misalnya : Apa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan
prestasi siswa-siswa kelas A4 SMA 2 Kupang ? Untuk memecahkan masalah ini tidak
dapat dilakukan secara sederhana melalui metode ilmiah, tetapi haruslah dengan
penelitian ilmiah yang dalam pelaksanaannya tetap menerapkan prinsip-prinsip metode
ilmiah.

Cara Kerja Pemecahan Masalah.

Secara singkat pada paragraf sebelumnya tentang
rumusan masalahpun kita sudah dapat memahami
bahwa cara kerja dalam penelitian ilmiah lebih
kompleks dibanding cara kerja pada metode
ilmiah. Selama melaksanakan penelitian ilmiah
diperlukan ketekunan, kesabaran, ketelitian, dan keahlian khusus. Penelitian ilmiah
dilakukan secara sadar, cermat dan sistematis mengenai subjek tertentu sehingga
dapat mengungkapkan fakta-fakta, teori-teori, atau aplikasi-aplikasi. Penelitian ilmiah
juga berkaitan dengan memperbaiki sesuatu yang sedang berjalan baik berupa fakta,
teori atau kegiatan, dan tidak hanya mengungkap hal-hal yang bersifat baru.
Penelitian ilmiah (scientific research ) bukan hanya upaya yang dilakukan untuk
pemuasan rasa ingin tahun, tetapi juga berkaitan dengan upaya untuk memecahkan
masalah-masalah yang berkaitan dengan gejala-gejala sosial ataupun kebendaan
(alam).

Langkah-Langkah Penelitian Ilmiah.

Proses pelaksanaan penelitian ilmiah terdiri dari langkah-langkah yang juga
menerapkan prinsip metode ilmiah. Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan
selama melakukan penelitian ilmiah adalah sebagai berikut :

1. mengidentifikasi dan merumuskan masalah
2. melakukan studi pendahuluan
3. merumuskan hipotesis
4. mengidentifikasi variabel dan definisi operasional variabel
5. menentukan rancangan dan desain penelitian
6. menentukan dan mengembangkan instrumen penelitian
7. menentukan subjek penelitian
8. melaksanakan penelitian
9. melakukan analisis data
10. merumuskan hasil penelitian dan pembahasan
11. menyusun laporan penelitian dan melakukan desiminasi.

Berikut kita bahas setiap langkah-langkah penelitian ilmiah (scientific research ) itu,
berikut ini.

Mengidentifikasi dan Merumuskan Masalah.

Sebagaimana halnya dalam metode ilmiah, pada penelitian ilmiah juga harus berangkat
dari adanya permasalahan yang ingin pecahkan. Sebelum melaksanakan penelitian
ilmiah perlu dilakukan identifikasi masalah. Proses identifikasi masalah penting
dilakukan agar rumusan masalah menjadi tajam dan sebagai bentuk data awal bahwa
dalam penelitian ilmiah tersebut memang dibutuhkan pemecahan masalah melalui
penelitian. Identifikasi masalah dirumuskan bersesuaian sebagaimana latar belakang
masalah, berdasarkan fakta dan data yang ada di lapangan. Identifikasi masalah pada
umumnya dirumuskan dalam bentuk kalimat deklaratif, sementara rumusan masalah
ditulis dalam bentuk kalimat tanya (berbentuk pertanyaan).

Melakukan Studi Pendahuluan

Di dalam penelitian ilmiah, perlu dilakukan sebuah studi pendahuluan. Peneliti dapat
melakukannya dengan menelusuri dan memahami kajian pustaka untuk bahan penyusun
landasan teori yang dibutuhkan untuk menyusun hipotesis maupun pembahasan hasil
penelitian nantinya. Sebuah penelitian dikatakan bagus apabila didasarkan pada
landasan teori yang kukuh dan relevan. Banyak teori yang bersesuaian dengan
penelitian, namun ternyata kurang relevan. Oleh karenanya, perlu dilakukan usaha
memilah-milah teori yang sesuai. Selain itu studi pendahuluan yang dilakukan peneliti
melalui pengkajian kepustakaan akan dapat membuat penelitian lebih fokus pada
masalah yang diteliti sehingga dapat memudahkan penentuan data apa yang nantinya
akan dibutuhkan.

Merumuskan Hipotesis.

Hipotesis perlu dirumuskan dalam sebuah penelitian ilmiah, lebih-lebih penelitian
kuantitatif. Dengan menyatakan hipotesis, maka penelitian ilmiah yang dilakukan
peneliti akan lebih fokus terhadap masalah yang diangkat. Selain itu dengan rumusan
hipotesis, seorang peneliti tidak perlu lagi direpotkan dengan data-data yang
seharusnya tidak dibutuhkannya, karena data yang diambilnya melalui instrumen
penelitian hanyalah data-data yang berkaitan langsung dengan hipotesis. Data-data ini
sajalah yang nantinya akan dianalisis. Hipotesis erat kaitannya dengan anggapan dasar.
Anggapan dasar merupakan kesimpulan yang kebenarannya mutlak sehingga ketika
seseorang membaca suatu anggapan dasar, tidak lagi meragukan kebenarannya.
Mengidentifikasi Variabel dan Definisi Operasional Variabel
Sebuah variabel dalam penelitian ilmiah adalah fenomena yang akan atau tidak akan
terjadi sebagai akibat adanya fenomena lain. Variabel penelitian sangat perlu
ditentukan agar masalah yang diangkat dalam sebuah penelitian ilmiah menjadi jelas
dan terukur. Dalam tahap selanjutnya, setelah variabel penelitian ditentukan, maka
peneliti perlu membuat definisi operasional variabel itu sesuai dengan maksud atau
tujuan penelitian. Definisi operasional variabel adalah definisi khusus yang dirumuskan
sendiri oleh peneliti. Definisi operasional tidak sama dengan definisi konseptual yang
didasarkan pada teori tertentu.

Menentukan Rancangan atau Desain Penelitian.

Rancangan penelitian sering pula disebut sebagai desain penelitian. Rancangan
penelitian merupakan prosedur atau langkah-langkah aplikatif penelitian yang berguna
sebagai pedoman dalam melaksanakan penelitian ilmiah bagi si peneliti yang
bersangkutan. Rancangan penelitian harus ditetapkan secara terbuka sehingga orang
lain dapat mengulang prosedur yang dilakukan untuk membuktikan kebenaran
penelitian ilmiah yang telah dilakukan peneliti.

Menentukan dan Mengembangkan Instrumen Penelitian.

Apakah yang dimaksud dengan instrumen penelitian? Instrumen penelitian merupakan
alat yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data yang dibutuhkannya.
Beragam alat dan teknik pengumpulan data yang dapat dipilih sesuai dengan tujuan
dan jenis penelitian ilmiah yang dilakukan. Setiap bentuk dan jenis instrumen penelitian
memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Karena itu sebelum menentukan
dan mengembangkan instrumen penelitian, perlu dilakukan pertimbangan-
pertimbangan tertentu. Salah satu kriteria pertimbangan yang dapat dipakai untuk
menentukan instrumen penelitian adalah kesesuaiannya dengan masalah penelitian
yang ingin dipecahkan. Tidak semua alat atau instrumen pengumpul data cocok
digunakan untuk penelitian-penelitian tertentu.

Menentukan Subjek Penelitian.

Orang yang terlibat dalam penelitian ilmiah dan berperan sebagai sumber data disebut
subjek penelitian. Seringkali subjek penelitian berkaitan dengan populasi dan sampel
penelitian. Apabila penelitian ilmiah yang dilakukan menggunakan sampel penelitian
dalam sebuah populasi penelitian, maka peneliti harus berhati-hati dalam
menentukannya. Hal ini dikarenakan, penelitian yang menggunakan sampel sebagai
subjek penelitian akan menyimpulkan hasil penelitian yang berlaku umum terhadap
seluruh populasi, walaupun data yang diambil hanya merupakan sampel yang jumlah
jauh lebih kecil dari populasi penelitian. Pengambilan sampel penelitian yang salah
akan mengarahkan peneliti kepada kesimpulan yang salah pula.Sampel yang dipilih
harus merepsentasikan populasi penelitian.

Melaksanakan Penelitian.

Pelaksanaan penelitian adalah proses pengumpulan data sesuai dengan desain atau
rancangan penelitian yang telah dibuat. Pelaksanaan penelitian harus dilakukan secara
cermat dan hati-hati karena kan berhubungan dengan data yang dikumpulkan,
keabsahan dan kebenaran data penelitian tentu saja akan menentukan kualitas
penelitian yang dilakukan.Seringkali peneliti saat berada di lapangan dalam
melaksanakan penelitiannya terkecoh oleh beragam data yang sekilas semuanya tampak
penting dan berharga. Peneliti harus fokus pada pemecahan masalah yang telah
dirumuskannya dengan mengacu pengambilan data berdasarkan instrumen penelitian
yang telah dibuatnya secara ketat. Berdasarkan cara pengambilan data terhadap
subjek penelitian, data dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu data langsung dan
data tidak langsung. Data langsung adalah data yang diperoleh secara langsung oleh
peneliti dari sumber data (subjek penelitian), sementara data tidak langsung adalah
data yang diperoleh peneliti tanpa berhubungan secara langsung dengan subjek
penelitian yaitu melalui penggunaan media tertentu misalnya wawancara menggunakan
telepon, dan sebagainya.

Melakukan Analisis Data.

Beragam data yang terkumpul saat peneliti melaksanakan penelitian ilmiahnya tidak
akan mempunyai kana apapun sebelum dilakukan analisis. Ada beragam alat yang
dapat digunakan untuk melakukan analisis data, bergantung pada jenis data itu sendiri.
Bila penelitian ilmiah yang dilakukan bersifat kuantitatif, maka jenis data akan bersifat
kuantitatif juga. Bila penelitian bersifat kualitatif, maka data yang diperoleh akan
bersifat kualitatif dan selanjutnya perlu diolah menjadi data kuantitatif. Untuk itu perlu
digunakan statistik dalam pengolahan dan analisis data.

Merumuskan Hasil Penelitian dan Pembahasan.

Pada hakekatnya merumuskan hasil penelitian dan melakukan pembahasan adalah
kegiatan menjawab pertanyaan atau rumusan masalah penelitian, sesuai dengan hasil
analisis data yang telah dilakukan. Pada saat melakukan pembahasan, berarti peneliti
melakukan interpretasi dan diskusi hasil penelitian.Hasil penelitian dan
pemabahasannya merupakan inti dari sebuah penelitian ilmiah.Pada penelitian ilmiah
dengan pengajuan hipotesis, maka pada langkah inilah hipotesis itu dinyatakan
diterima atau ditolak dan dibahas mengapa diterima atau ditolak. Bila hasil penelitian
mendukung atau menolak suatu prinsip atau teori, maka dibahas pula mengapa
demikian. Pembahasan penelitian harus dikembalikan kepada teori yang menjadi
sandaran penelitian ilmiah yang telah dilakukan.

Menyusun Laporan Penelitian dan Melakukan Desiminasi.

Seorang peneliti yang telah melakukan penelitian ilmiah wajib menyusun laporan hasil
penelitiannya. Penyusunan laporan dan desiminasi hasil penelitian merupakan langkah
terakhir dalam pelaksanaan penelitian ilmiah. Format laporan ilmiah seringkali telah
dibakukan berdasarkan institusi atau pemberi sponsor di mana penelitia itu
melakukannya. Desiminasi dapat dilakukan dalam bentuk seminar atau menuliskannya
dalam jurnal-jurnal penelitian. Ini penting dilakukan agar hasil penelitian diketahui oleh
masyarakat luas (masyarakat ilmiah) dan dapat dipergunakan bila diperlukan.

Posted from WordPress for Android

attitudes & behaviors

TEORI DAN KONSEP PERILAKU

Perilaku adalah suatu kegiatan & aktifitas organisme yang bersangkutan, baik aktifitas yang dapat
diamati atau yang tidak dapat diamati oleh orang lain.
Manusia berperilaku atau beraktifitas karena adanya kebutuhan untuk mencapai suatu tujuan / goal. Dengan adanya kebutuhan akan muncul motivasi atau penggerak. Sehingga individu itu akan beraktifitas untuk mencapai tujuan dan mengalami kepuasan. Pada umumnya, perilaku dapat ditinjau secara sosial yaitu :
pengaruh hubungan antara organisasi dengan lingkungannya.

Proses Pembentukan Perilaku Menurut Para Ahli :

SKINNER (1983)
Menurut Skinner, perilaku adalah respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus. Teori Skinner disebut teori S-O-R (stimulus-organisme-respos).
Ada 2 jenis respons menurut teori S-O-R :
1. Respondent respon : respon yang ditimbulkan oleh stimulus tertentu & menimbulkan respons yang relatif tetap.
2. Operant respon : respons yang timbul & berkembang kemudian diikuti oleh stimuli yang lain.

Berdasarkan teori S-O-R, perilaku manusia dibagi 2 kelompok :

1. Perilaku tertutup, yaitu perilaku yang tidak dapat diamati oleh orang lain.
Contoh : perasaan, persepsi, perhatian.
2. Perilaku terbuka, yaitu perilaku yang dapat diamati oleh orang lain berupa tindakan atau praktek.

BENYAMIN BLOOM (1908)
Menurutnya ada 3 tingkat ranah perilaku :
Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimiliki.
Sikap (attitude)
Sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan.
Tindakan atau praktek
Praktek terpimpin adalah melakukan sesuatu tetapi masih menggunakan panduan. Sedangkan praktek secara mekanisme adalah melakukan sesuatu hal secara otomatis.
Adapapun adopsi adalah tindakan tidak hanya rutinitas tetapi sudah dilakukan modifikasi perilaku yang berkualitas.

PERUBAHAN PERILAKU
Teknik dasar perubahan perilaku terdiri dari :
PERILAKU
Yaitu adanya pengaruh hubungan antara organisasi dengan lingkungannya terhadap perilaku intrapsikis dan biologis. Intrapsikis adalah proses-proses dan dinamika mental atau psikologis yang mendasari perilaku. Biologis adalah proses-proses dan dinamika saraf faali (neural fisiologis) yang ada dibalik suatu perilaku.

SEL-SEL TUBUH
Yaitu tubuh dibekali dengan sel-sel yang berfungsi sebagai penerima rangsang (reseptor), penerus rangsang (adjustor) & sel-sel penanggap rangsang (affector).
Dengan berfungsinya ketiga jenis sel-sel tubuh ini, organisasi dapat menerima rangsang (bunyi) dan menanggapinya secara tepat (berbunyi).

SISTEM SARAF terbagi menjadi dua :

1. Sistem saraf pusat
Terdiri dari sel-sel saraf otak & sum-sum tulang belakang. Sistem safat ini berfungsi mengkoordinasi perilaku -perilaku yang kompleks dikoordinasi oleh otak dan yang sederhana (seperti reflek) oleh sum-sum tulang belakang.

2. Sistem saraf tepi (perifer)
Sistem saraf ini terdapat dalam semua organ lain dalam tubuh manusia. Tugas utamanya adalah menyalurkan rangsangan-rangsangan yang diterima baik dari dalam maupun dari luar tubuh ke sistem saraf pusat.

Faktor-faktor Personal yang Mempengaruhi Perilaku Manusia :
1. Faktor Biologis
Yaitu adanya perilaku tertentu yang merupakan bawaan manusia dan bukan pengaruh lingkungan atau sitausi. Misalnya bercumbu, memberi makan, merawat anak dan perilaku agresif. Selain itu, adanya motif biologis yang mendorong perilaku manusia juga menjadi faktor biologis yang mempengaruhi prilaku manusia. Sebagai contoh misalnya kebutuhan akan makan, minum, istirahat, seksual dan kebutuhan memelihara kelangsungan hidup dengan menghindari sakit dan bahaya.
2. Faktor Sosiopsikologis
Komponen afektif yaitu aspek emosional dari faktor sosiopikologis. Komponen kognitif yaitu aspek intelektual yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia.Komponen konatif yaitu aspek vilisional yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak.
Komponen Afektif Terdiri dari Sosiogenis, Sikap dan Emosi
Motif Sosiogenis (Motif Sekunder)

Menurut David McClelland motif sosiogenis terdiri dari kebutuhan berprestasi, kebutuhan akan kasih sayang dan kebutuhan berkuasa. Sedangkan menurut W.I Thomas dan Florian Znanieecki motif sosiogenis terdiri dari keinginan memperoleh pengalaman baru, keinginan untuk mendapat respon, keinginan akan pengakuan dan keingnan akan rasa aman.

Sikap
Sikap adalah Kecenderungan bertindak, berpersepsi, berfikir dan merasa dalam menghadapi ide, objek, situasi atau nilai. Sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi. Sikap relatif lebih menetap. Sikap mengandung aspek evaluatif dan Sikap timbul dari pengalaman.
Emosi
Menunjukkan kegoncangan organisme disertai gejala kesadaran,keperilaku dan kemampuan proses fisiologis.
Fungsi emosi adalah untuk pembangkit energi, pembawa informasi intrapersonal, pembawa pesan dalam komunikasi interpersonal dan sumber informasi tentang keberhasilan kita.
Lamanya emosi :
Lamanya emosi bisa berlangsung singkat dan bisa berlangsung lama. Mood lah yang mempengaruhi persepsi pada stimuli yang merangsang alat indera.
Intensitas emosi :
Intensitas emosi meliputi emosi ringan dan kuat. Emosi ringan adalah meningkatkan perhatian pada situasi yang dihadapi dan disertai perasaan tegang sedikit.
Emosi kuat adalah disertai rangsangan fisiologis yg kuat, detak jantung, tekanan darah, pernafasan dan ardenalin. Semua itu terjadi peningkatan.

Komponen Kognitif
Konponen kognitif ini adalah hubungannya dengan kepercayaan. Yaitu keyakinan bahwa sesuatu itu benar atau salah atas dasar bukti, sugesti otoritas, pengalaman atau intuisi (Hohler,et al,1978:48). Kepercayaan memberikan perspektif dalam mempersepsikan kenyataan, memberikan dasar bagi pengambilan keputusan dan menentukan sikap terhadap objek sikap.

Komponen Konasi
Kemauan Dorongan, energi, tindakan yang merupakan usaha seseorang untuk mencapai tujuan.
Kebiasaan, adalah aspek perilaku manusia yg menetap, berlangsung secara otomatis & tidak direncanakan.
Merupakan reaksi khas yg diulangi seseorang secara berkali-kali.

1. Perilaku manusia merupakan resultan dari berbagai faktor, baik internal maupun eksternal.
2. Faktor determinan perilaku manusia luas, namun beberapa ahli mencoba merumuskan teori terbentuknya
perilaku manusia.
3. Teori perilaku manusia antara lain adalah : Teori ABC, Reason Action, “PRECED-PROCEED”, Behavior Intention, Thoughs and Feeling.

TEORI ABC (Sulzer, Azaroff, Mayer : 1977 )
Menurut teori ini perilau manusia merupakan sutu proses sekaligus hasil interaksi antara :
Antecedent Behavior Consequences
1. Antecedent : trigger, bisa alamiah ataupun man made
2. Behavior : reaksi terhadap antecedent
3. Consequences : bisa positif( menerima), atau negatif ( menolak )

TEORI“REATION ACTION” (FESBEIN &AJZEN :1980 )
Teori ini menekankan pentingnya “intention”/niat sebagai faktor penentu perilaku. Niat itu sendiri ditentukan oleh :
sikap
norma subjektif
pengendalian perilaku
Contoh : Seorang ibu yang mau mengimunisasikan anaknya didasari niat, dimana niat itu ditentukan oleh
sikap ibu yang setuju dengan imunisasi, keyakinan ibu akan perilaku yang diambil dan sudah siap bila
anaknya panas setelah diimunisasi.

TEORI PRECED-PROCEED
( Lawrence Green : 1991 )
Perilaku ditentukan oleh faktor :
Predisposing factors, terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai Enabling factors,
tersedianya atau tidak tersedianya fasilitas Reinforcing factors, terwujud dalam sikap dan perilaku
petugas kesehatan atau dari kelompok referensi dari perilaku masyarakat
Contoh :
Seorang bapak mau membangun WC yang sebelumnya masih BAB di sungai karena :
1. Ia tahu BAB di jamban lebih sehat( Pf)
2. Ia punya bahan bangunan untuk memebangun WC( Ef )
3. Ada surat edaran dari Pak Lurah agar setiap kelurga mempunyai WC ( Rf)
Secarq matematis : B = f ( Pf, Ef, Rf )

TEORI BEHAVIOR INTENTION
( Snehendu Kar : 1980 )
Menurut teori ini, perilaku kesehatan merupakan fungsi dari :
1. Behavior intention
2. Social support
3. Accessibility to information
4. Personal autonomy
5. Action situation
B = f ( BI, SS, AI, PA, AS )
Contoh:
Seorang ibu melahirkan di dukun yang belum mengikuti pelatihan asuhan persalinan normal, bukan di
tenaga medis terlatih, mungkin dikarenakan :
1. Tidak ada niat melahirkan di bidan(BI)
2. Tidak ada tetangganya yang melahirkan di bidan(SC)
3. Tidak mendapat informasi persalinan yang sehat(AI)
4. Tidak bebas menentukan, takut mertua(PA)
5. Kondisi jauh dari puskemas(AS)
TEORI“THOUGHT AND FEELING”

( WHO:1984)
Menurut teori ini perilaku kesehatan seseorang ditentukan oleh :
1. Thoughts and feeling
2. Personal reference
3. Resources
4. Culture
B = f ( TF, PR, R, C )
Contoh :
Seorang ibu habis melahirkan tidak mau menyusui anaknya, karena dia punya keyakinan kalau payudaranya
akan hilang keindahannya bila menyusui (TF), atau karena artis yang diidolakannya tidak menyusui
sehingga dia mengikuti (PR), atau karena harus bekerja, tidak ada waktu untuk menyusui (R), atau karena
kebudayaan di daerah ibu tersebut lebih keren kalau memberi susu formula daripada ASI, makin mahal
harga susu maka status sosial makin naik (C).

TEORI-TEORI PERUBAHAN PERILAKU KESEHATAN
Teori perubahan perilaku kesehatan ini penting dalam promosi kesehatan yang bertujuan “behavior
change”
Perubahan perilaku ini diarahkan untuk :
1. mengubah perilaku negatif ( tidak sehat ) menjadi perilaku positif ( sesuai dengan nilai-nilai kesehatan )
2. pembentukan atau pengembangan perilaku sehat
3. memelihara perilaku yang sudah positif
Teori-teori yang akan kita bahas adalah : Teori SOR, Festinger, Fungsi, Kurt Lewis

TEORI PERUBAHAN PERILAKU KESEHATAN
Menurut teori ini, penyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung kepada kualitas rangsang
( stimulus ) yang berkomunikasi dengan organisme. Perilaku dapat berubah hanya apabila stimulus yang
diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula (mampu meyakinkan). Karena itu kualitas dari sumber
komunikasi sangat menentukan keberhasilan perubahan perilaku, misalnya gaya bicara, kredibilitas
pemimpin kelompok, dsb

DISSONANCE THEORY(FESTINGER :1957)
Ada suatu keadaan cognitive dissonance yang merupakan ketidakseimbangan psikologis, yang diliputi oleh
ketegangan diri yang berusaha untuk mencapai keseimbangan kembali.Dissonance tejadi karena dalam diri
individu terdapat elemen kognisi yang bertentangan, pengetahuan, pendapat atau keyakinan. Apabila
terjadi penyesuaian secara kognitif, akan ada perubahan sikap yang berujung perubahan perlaku.
Contoh :
Orang yang merokok merasa resah, dia tahu bahaya merokok tapi merasa bukan laki-laki kalau tidak
merokok (dissonance). Akhirnya dia memutuskan kalau kejantanan seseorang bukan hanya dari merokok,
tapi dari banyak hal.Akhirnya dia memutuskan berhenti merokok (consonance).

TEORI FUNGSI ( Katz : 1960 )
Meurut teori ini perilaku mempunyai fungsi :
1. instrumental
2. defence mechanism
3. penerima objek dan pemberi arti
4. nilai ekspresif
Perubahan perilaku individu tergantung kebutuhan
Stimulus yang dapat memberi perubahan perilaku individu adalah stimulus yang dapat dimengerti dalam
konteks kebutuhan orang tersebut.

TEORI KURT LEWIN (1970)
Menurut Kurt Lewin, perilaku manusia adalah suatu keadaan seimbang antara driving forces (kekuatan-
kekuatan pendorong) dan restrining forces (kekuatan-kekuatan penahan). Perilaku dapat berubah apabila
terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan tersebut. Ada tiga kemungkinan terjadinya perubahan
perilaku :
Kekuatan pendorong, kekuatan penahan tetap perilaku baru.
Contoh : seseorang yang punya saudara dengan penyakit kusta sebelumnya tidak mau memeriksakan
saudaranya karena malu dikira penyakit keturunan, dapat berubah perilakunya untuk memeriksakan
saudaranya ke puskesmas karena adanya penyuluhan dari petugas kesehatan terdekat tentang pentingnya
deteksi dini kusta.

Kekuatan penahan, pendorong tetap perilaku baru.
Misalnya pada contoh di atas , dengan memberi pengertian bahwa kusta bukan penyakit keturunan, maka
kekuatan penahan akan melemah dan terjad perubahan perilaku.

Kekuatan penahan, pendorong, perubahan perilaku .
Misalnya pada contoh di atas dua-duanya dilakukan.

BENTUK PERUBAHAN PERILAKU
Menurut WHO, perubahan perilaku dikelompokkan menjadi tiga :
1. Natural change, Sebagian perubahan perilaku manusia karena kejadian alamiah
2. Planned change, Perubahan perilaku karena memang direncanakan sendiri
3. Readiness to Change, Kesediaan untuk berubah terhadap hal-hal baru.

STRATEGI PERUBAHAN PERILAKU (WHO)
1. Menggunakan kekuatan (Enforcement)
2. Menggunakan kekuatan peraturan atau hukum (Regulation)
3. Pendidikan (Education)

Posted from WordPress for Android

Berpacu dengan waktu

Satu kebaikan kecil menghasilkan ribuan bahkan jutaan kesempatam hidup, NAMUN waktu sepertinya berlalu begitu cepat.  Mungkin untuk sebuah kebaikan waktu & kesempatan berlaku seperti itu, seolah ingin mengatakan….itu tidak begitu penting,banyak yg lebih urgen, terlalu klise. Berbanding terbalik seandainya yg ingin dibuat itu kebalikannya. Oh seolah kesempatan terbuka seluas samudra,waktu tersedia banyak, dunia berkata welcome…
Apakah memang kita hidup dijaman yg telah kehilangan nilai2 baik atau kita yg telah membuatnya hilang…
Sejarah mencatat bahwa kebaikan memiliki banyak penentang….
SoE, late December 2013.
image